Tidak
Selamanya
“apa yang sedang kau lakukan, hah?”
suaranya mengagetkanku. Hampir saja aku menjatuhkan setumpuk buku biologi yang sedang ku peluk.
sebenarnya akan lebih bagus kalau tumpukan buku ini kulemparkan tepat didepan wajahnya.
“bodoh” jawabku sinis.
“apa? Apa kau bilang?” ia sangat terkejut dengan jawabanku.
aku menjulurkan lidah dan segera berbalik arah.
merasa menang karena sudah membuatnya terkejut seperti itu.
dari kejauhan, samar-samar ku dengar ia memaki.
“kalau kau merasa pintar. Ku tantang kau dalam lomba juara kimia bulan depan!”
suaranya mengagetkanku. Hampir saja aku menjatuhkan setumpuk buku biologi yang sedang ku peluk.
sebenarnya akan lebih bagus kalau tumpukan buku ini kulemparkan tepat didepan wajahnya.
“bodoh” jawabku sinis.
“apa? Apa kau bilang?” ia sangat terkejut dengan jawabanku.
aku menjulurkan lidah dan segera berbalik arah.
merasa menang karena sudah membuatnya terkejut seperti itu.
dari kejauhan, samar-samar ku dengar ia memaki.
“kalau kau merasa pintar. Ku tantang kau dalam lomba juara kimia bulan depan!”
***
“apa
yang kau lakukan?” Tanya riren tiba-tiba ketika kami sedang mengerjakan tugas
matematika didalam kelas.
“apa? Lakukan apa?” tanyaku bingung.
riren kesal dan refleks menepuk keningnya.
“Tim. Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?
ia tampak begitu marah dikantin tadi, dan ia mengatakan bahwa..
bahwa kau menantangnya untuk mengikuti lomba kimia bulan depan!
oh del, apa kau sudah gila?!”
aku meletakkan penaku.
“apa?” kataku. Memastikan bahwa riren sedang tidak bergurau.
“apa? Apanya yang apa?” riren tampak kesal.
“ok..ok.. aku mengerti.
tapi kau harus tahu bahwa ia yang menantangku untuk mengikuti lomba itu” terangku.
riren menyipitkan matanya tampak tak mengerti.
“oh gosh! Pagi ini aku pergi ke perpustakaan sains untuk meminjam beberapa buku
biologi. Kau tahu kan kalau aku sangat membutuhkan buku-buku itu untuk memperbaiki
nilai biologiku.
setelah berhasil mendapatkan beberapa judul yang kucari. Aku pergi berjalan-jalan
sebentar untuk melihat buku-buku yang lainnya.
ketika melewati rak buku-buku kimia, mataku menangkap sebuah lemari penuh laci
bewarna cokelat tua. Aku mendekati lemari itu dan membaca beberapa nama disana.
ketika mataku sampai pada nama ‘Tim John’ rasa ingin tahuku pun membuncah.
well, aku ingin tahu apa yang ia simpan didalam sana. Mungkin saja ia menyimpan
rahasianya sebagai juara kimia 16 kali” terangku memasang wajah tak bersalah pada riren.
“apa? Lakukan apa?” tanyaku bingung.
riren kesal dan refleks menepuk keningnya.
“Tim. Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?
ia tampak begitu marah dikantin tadi, dan ia mengatakan bahwa..
bahwa kau menantangnya untuk mengikuti lomba kimia bulan depan!
oh del, apa kau sudah gila?!”
aku meletakkan penaku.
“apa?” kataku. Memastikan bahwa riren sedang tidak bergurau.
“apa? Apanya yang apa?” riren tampak kesal.
“ok..ok.. aku mengerti.
tapi kau harus tahu bahwa ia yang menantangku untuk mengikuti lomba itu” terangku.
riren menyipitkan matanya tampak tak mengerti.
“oh gosh! Pagi ini aku pergi ke perpustakaan sains untuk meminjam beberapa buku
biologi. Kau tahu kan kalau aku sangat membutuhkan buku-buku itu untuk memperbaiki
nilai biologiku.
setelah berhasil mendapatkan beberapa judul yang kucari. Aku pergi berjalan-jalan
sebentar untuk melihat buku-buku yang lainnya.
ketika melewati rak buku-buku kimia, mataku menangkap sebuah lemari penuh laci
bewarna cokelat tua. Aku mendekati lemari itu dan membaca beberapa nama disana.
ketika mataku sampai pada nama ‘Tim John’ rasa ingin tahuku pun membuncah.
well, aku ingin tahu apa yang ia simpan didalam sana. Mungkin saja ia menyimpan
rahasianya sebagai juara kimia 16 kali” terangku memasang wajah tak bersalah pada riren.
“del, apa maksudmu kau
memeriksa lemari laci siswa-siswi berprestasi itu..
kau..
kau menggeledah laci Tim John!” riren terbelalak.
kau..
kau menggeledah laci Tim John!” riren terbelalak.
Aku mengangguk sembari tersenyum jahat dan kemudian
berkata,
“ia selalu menyombongkan kemampuan kimianya itu. Aku membencinya”
mendengar penuturanku, masih dalam keterkejutannya. Riren akhirnya kehabisan kata-kata.
“ia selalu menyombongkan kemampuan kimianya itu. Aku membencinya”
mendengar penuturanku, masih dalam keterkejutannya. Riren akhirnya kehabisan kata-kata.
***
1 bulan kemudian..
dalam lomba juara kimia.
dalam lomba juara kimia.
“kau
yakin bisa mengalahkan juara 16 kali berturut-turut itu, del?” Tanya riren
pesimis.
“sebenarnya aku tak ingin menang. Aku hanya ingin mempermalukannya” jawabku.
“sebenarnya aku tak ingin menang. Aku hanya ingin mempermalukannya” jawabku.
Riren lagi-lagi menepuk keningnya dan bergumam,
“kau
gila, del”
Beberapa saat kemudian perlombaan pun dimulai.
Dan yah.. sepertinya usahaku 1 bulan sebelumnya
benar-benar tidak mengecewakan.
Karena cukup mudah bagiku untuk mengerjakan
soal-soal yang mengerikan ini.
100 menit akhirnya berlalu. 50 peserta termasuk aku
dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan oleh para juri.
Baru saja aku hendak keluar melewati pintu, riren
sudah tampak berlarian kearahku.
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang gugup.
Setelah menunggu selama 2 jam diselingi dengan
pentas seni yang ditampilkan oleh adik-adik kelasku. Pengumuman pemenang lomba
akhirnya tiba.
Riren menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.
“aku
tak siap menerima kekalahanmu” katanya sungguh-sungguh.
Aku menyimak dengan mantap.
Dan kejutan pun datang.
Juara ketiga diraih oleh Glen yang tahun lalu
menempati juara kedua dalam perlombaan ini.
Dan..
Coba tebak siapa yang meraih juara kedua?!
Tim!
yak betul. “TIM JOHN!”
Tim!
yak betul. “TIM JOHN!”
Aku bersorak ketika namanya disebut sebagai pemenang
juara kedua.
Membuat semua orang yang ada disana menatap
kearahku.
Bahkan sang MC pun menatap tak mengerti kearahku.
Kemudian, coba tebak siapa sang juara pertama?
“DELLA TAMA!!!”
Dan “yeesssss!!!” aku kembali bersorak.
Riren terkejut dan sama sekali tak menduganya.
Aku, Tim si bodoh, dan Glen dipersilahkan naik
keatas panggung
Kau tahu? Menyenagkan sekali berdiri di undakan yang
lebih tinggi dari si sombong Tim.
Dan piala ini..
Sungguh besar, berat, dan berkilau!
Ketika menuruni panggung, riren datang menghampiri
dan dengan senangnya berkata,
“Gosh!
Kau sungguh berbakat dalam belajar, del!
mengapa tidak dari awal kau tunjukkan kemampuanmu itu, hah?
1 bulan belajar keras dank au sudah mampu mengalahkan Tim sang juara kimia!”
mengapa tidak dari awal kau tunjukkan kemampuanmu itu, hah?
1 bulan belajar keras dank au sudah mampu mengalahkan Tim sang juara kimia!”
Aku tertawa mendengar riren yang begitu terharu dan
bersemangat.
***
2 bulan kemudian..
Terjadi sesuatu yang ganjil. Setelah perlombaan
juara kimia itu usai. Sepertinya Kim John menyukaiku. Ia jatuh cinta padaku.
Aku bergidik ngeri.
Setiap harinya, ia selalu mengirimkan aku surat
beramplop merah muda yang berisikan puisi panjang ala pujangga.
Hingga disuatu sore yang melelahkan.
Setelah ujian matematika usai.
Tim datang menghampiriku didepan perpustakaan sains.
“em
del, bisakah kita bicara sebentar.
ada yang ingin kukatakan” Tim tampak gugup.
ada yang ingin kukatakan” Tim tampak gugup.
Dengan cepat aku menjawab.
“maaf
Tim. Ini suda sore. Aku harus pulang”
Tim menghalangiku melangkah pergi. Dan dengan cepat
ia mengungkapkan isi hatinya padaku.
“del,
aku menyukaimu” katanya dengan lembut.
Aku terdiam sesaat dan kemudian membalas.
“kenapa?
Karena sekarang aku adalah juara kimia yang popular?” tanyaku tajam.
“ti..tidak
del.
bukan begitu..” Tim menelan ludah dan tampak makin gugup.
bukan begitu..” Tim menelan ludah dan tampak makin gugup.
“oh
Tim, kau harus tahu 1 hal.
tidak selamanya rasa benci harus berakhir dengan cinta.
dan begitu pula sebaliknya” terangku.
tidak selamanya rasa benci harus berakhir dengan cinta.
dan begitu pula sebaliknya” terangku.
Aku segera saja beranjak pergi.
Meninggalkan Tim yang tertunduk dengan mata
berkaca-kaca.
Tamat_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar