Jumat, 28 Maret 2014

Tidak Selamanya
“apa yang sedang kau lakukan, hah?”
suaranya mengagetkanku. Hampir saja aku menjatuhkan setumpuk buku biologi yang sedang ku peluk.
sebenarnya akan lebih bagus kalau tumpukan buku ini kulemparkan tepat didepan wajahnya.
            “bodoh” jawabku sinis.
            “apa? Apa kau bilang?” ia sangat terkejut dengan jawabanku.
aku menjulurkan lidah dan segera berbalik arah.
merasa menang karena sudah membuatnya terkejut seperti itu.
dari kejauhan, samar-samar ku dengar ia memaki.
            “kalau kau merasa pintar. Ku tantang kau dalam lomba juara kimia bulan depan!”
***
            “apa yang kau lakukan?” Tanya riren tiba-tiba ketika kami sedang mengerjakan tugas matematika didalam kelas.
            “apa? Lakukan apa?” tanyaku bingung.
riren kesal dan refleks menepuk keningnya.
            “Tim. Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?
              ia tampak begitu marah dikantin tadi, dan ia mengatakan bahwa..
              bahwa kau menantangnya untuk mengikuti lomba kimia bulan depan!
              oh del, apa kau sudah gila?!”
aku meletakkan penaku.
            “apa?” kataku. Memastikan bahwa riren sedang tidak bergurau.
            “apa? Apanya yang apa?” riren tampak kesal.
            “ok..ok.. aku mengerti.
              tapi kau harus tahu bahwa ia yang menantangku untuk mengikuti lomba itu” terangku.
riren menyipitkan matanya tampak tak mengerti.
            “oh gosh! Pagi ini aku pergi ke perpustakaan sains untuk meminjam beberapa buku
              biologi. Kau tahu kan kalau aku sangat membutuhkan buku-buku itu untuk memperbaiki
              nilai biologiku.
              setelah berhasil mendapatkan beberapa judul yang kucari. Aku pergi berjalan-jalan
              sebentar untuk melihat buku-buku yang lainnya.
              ketika melewati rak buku-buku kimia, mataku menangkap sebuah lemari penuh laci
              bewarna cokelat tua. Aku mendekati lemari itu dan membaca beberapa nama disana.
              ketika mataku sampai pada nama ‘Tim John’ rasa ingin tahuku pun membuncah.
              well, aku ingin tahu apa yang ia simpan didalam sana. Mungkin saja ia menyimpan
              rahasianya sebagai juara kimia 16 kali” terangku memasang wajah tak bersalah pada riren.
“del, apa maksudmu kau memeriksa lemari laci siswa-siswi berprestasi itu..
  kau..
  kau menggeledah laci Tim John!” riren terbelalak.
Aku mengangguk sembari tersenyum jahat dan kemudian berkata,
            “ia selalu menyombongkan kemampuan kimianya itu. Aku membencinya”
mendengar penuturanku, masih dalam keterkejutannya. Riren akhirnya kehabisan kata-kata.
***
1 bulan kemudian..
dalam lomba juara kimia.
            “kau yakin bisa mengalahkan juara 16 kali berturut-turut itu, del?” Tanya riren pesimis.
            “sebenarnya aku tak ingin menang. Aku hanya ingin mempermalukannya” jawabku.
Riren lagi-lagi menepuk keningnya dan bergumam,
            “kau gila, del”
Beberapa saat kemudian perlombaan pun dimulai.
Dan yah.. sepertinya usahaku 1 bulan sebelumnya benar-benar tidak mengecewakan.
Karena cukup mudah bagiku untuk mengerjakan soal-soal yang mengerikan ini.
100 menit akhirnya berlalu. 50 peserta termasuk aku dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan oleh para juri.
Baru saja aku hendak keluar melewati pintu, riren sudah tampak berlarian kearahku.
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang gugup.
Setelah menunggu selama 2 jam diselingi dengan pentas seni yang ditampilkan oleh adik-adik kelasku. Pengumuman pemenang lomba akhirnya tiba.
Riren menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.
            “aku tak siap menerima kekalahanmu” katanya sungguh-sungguh.
Aku menyimak dengan mantap.
Dan kejutan pun datang.
Juara ketiga diraih oleh Glen yang tahun lalu menempati juara kedua dalam perlombaan ini.
Dan..
Coba tebak siapa yang meraih juara kedua?!
Tim!
yak betul. “TIM JOHN!”
Aku bersorak ketika namanya disebut sebagai pemenang juara kedua.
Membuat semua orang yang ada disana menatap kearahku.
Bahkan sang MC pun menatap tak mengerti kearahku.
Kemudian, coba tebak siapa sang juara pertama?
“DELLA TAMA!!!”
Dan “yeesssss!!!” aku kembali bersorak.
Riren terkejut dan sama sekali tak menduganya.
Aku, Tim si bodoh, dan Glen dipersilahkan naik keatas panggung
Kau tahu? Menyenagkan sekali berdiri di undakan yang lebih tinggi dari si sombong Tim.
Dan piala ini..
Sungguh besar, berat, dan berkilau!
Ketika menuruni panggung, riren datang menghampiri dan dengan senangnya berkata,
            “Gosh! Kau sungguh berbakat dalam belajar, del!
              mengapa tidak dari awal kau tunjukkan kemampuanmu itu, hah?
              1 bulan belajar keras dank au sudah mampu mengalahkan Tim sang juara kimia!”
Aku tertawa mendengar riren yang begitu terharu dan bersemangat.
***
2 bulan kemudian..
Terjadi sesuatu yang ganjil. Setelah perlombaan juara kimia itu usai. Sepertinya Kim John menyukaiku. Ia jatuh cinta padaku.
Aku bergidik ngeri.
Setiap harinya, ia selalu mengirimkan aku surat beramplop merah muda yang berisikan puisi panjang ala pujangga.
Hingga disuatu sore yang melelahkan.
Setelah ujian matematika usai.
Tim datang menghampiriku didepan perpustakaan sains.
            “em del, bisakah kita bicara sebentar.
              ada yang ingin kukatakan” Tim tampak gugup.
Dengan cepat aku menjawab.
            “maaf Tim. Ini suda sore. Aku harus pulang”
Tim menghalangiku melangkah pergi. Dan dengan cepat ia mengungkapkan isi hatinya padaku.
            “del, aku menyukaimu” katanya dengan lembut.
Aku terdiam sesaat dan kemudian membalas.
            “kenapa? Karena sekarang aku adalah juara kimia yang popular?” tanyaku tajam.
            “ti..tidak del.
              bukan begitu..” Tim menelan ludah dan tampak makin gugup.
            “oh Tim, kau harus tahu 1 hal.
              tidak selamanya rasa benci harus berakhir dengan cinta.
              dan begitu pula sebaliknya” terangku.
Aku segera saja beranjak pergi.
Meninggalkan Tim yang tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

Tamat_








        



                                                                                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar