Rabu, 28 Mei 2014

Coba pikir lagi



Coba pikir lagi

Dunia kampus..
hmm.. dunia kampus ya?
Setelah 2 semester ngerasain hiruk-pikuk dunia kampus, saya akhirnya memahami kegembiraan, duka, ketakutan, dan juga peran sebagai mahasiswa yang sedang menempati dunia kampus ini.
Well, dunia kampus itu jauuuuuh lebih luas dibandingkan dunia sma. Yah walaupun terkadang terlintas rindu yang amat sangat pada masa putih abu-abu.
Yuk kita mulai dari sini..
.SNMPTN
Jangan sedih buat temen2 yang tidak berhasil lolos pada jenis yang satu ini. Yakin aja kalo kalian pasti punya peluang yang lebih baik di universitas, fakultas, dan jurusan yang lain.
Well, kegagalan itu memang menyakitkan. Dan rasa sakit itu emang buat sedih banget. Tapii..
Ingat 1 hal..
jangan nyerah
J
Masih banyak kesempatan yang lain. Coba terus peluang yang lain sampai kalian berhasil.
.SBMPTN
Nah ini..
Masih ada jenis test yang satu ini kok.
Lebih seru, menantang, dan..
Dan..
Menegangkan :v
Dan masih ada jenis2 yang lainnya juga..
Cukup untuk ngebahas masalah SNM, SBM apalagi melipir bahas masa putih abu-abu.
Sekarang saya mau sedikit berbagi kata dengan tema ‘coba pikir lagi’
Kecewa setelah gagal di tes yang pertama, kedua, ketiga terkadang memang bikin nge-down. Gak jarang ujung-ujungnya temen-temen masuk ke universitas atau jurusan yang bukan merupakan impian sejak awal dengan dalih ‘daripada ga kuliah’
Coba pikir lagi.
Mungkin di awal temen-temen mencoba untuk menikmati semuanya. Mencoba mendalami semuanya. Mencoba menarik sebanyak mungkin kegembiraan yang bisa temen-temen dapatkan dilingkungkan yang baru. Lingkungan kampus.
Tapi lambat laun, sebuah pertanyaan besar akan sering terlintas di pikiran temen-temen ketika kesulitan datang semakin sering. Merasa tidak sepaham dengan teman-teman sejurusan, tidak menyukai mata kuliah yang ada dan temen-temen merasa semakin jauh dari apa yang dicita-citakan misalnya.
Pertanyaan itu akan terus berputar didalam kepala ‘apakah ini yang benar-benar saya inginkan?’
Semua rasa ketidaknyamanan yang ada justru akan membuat nilai IP atau IPK temen-temen tidak terlalu bagus.
Ada 2 kemungkinan yang bisa temen-temen lakukan kalau seandainya hal ini terjadi,
1.     Memperjuangkan apa yang sudah teman-teman pilih atau,
2.    Memperjuangkan apa yang teman2 ingankan (test univ/jur lain)
2 kemungkinan tersebut masing2 memiliki sisi baik dan buruknya.
Salah satu contoh Sisi baik dan buruknya adalah,
Jika temen-temen memperjuangkan apa yang sudah teman2 pilih:
1.     Temen2 pada akhirnya mampu menikmati semuanya (baik)
2.    Temen2 semakin merasa tertekan dan hidup dalam dunia mimpi (buruk)
Jika temen2 memperjuangkan apa yang temen2 inginkan:
1.     Temen2 mendapatkan apa yang diinginkan (baik)
2.    Temen2 menyesal karena menyadari apa yang temen2 inginkan ternyata bukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan (buruk)
Coba pikir lagi..
Kalau kita kuliah semata-mata untuk mencari profesi setelahnya. Betapa sempitnya pikiran kita ini ya..
Thomas alva Edison aja yang gak kuliah bisa sehebat itu :D
Bukan maksud bilang kuliah itu ga penting loh -_-
Profesi itu mungkin bisa dibilang hanya salah satu bagian yang ada dalam hidup kita. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa profesi mungkin akan menentukan akan menjadi orang seperti apa kita ini.
Hmm.
Mungkin pertanyaan inilah yang harusnya ditanamkan ke pada para mahasiswa harapan bangsa.
Bukannya ‘mau jadi apakah saya?’
Tetapi..
‘Mau jadi orang seperti apakah saya?’
Bukan ‘pemimpin dengan profesi apakah yang dibutuhkan oleh bangsa ini?’
Melainkan,
‘pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan oleh bangsa ini?’
Coba pikir lagi..

Jumat, 23 Mei 2014

Balasan Kebahagiaan



‘bagaimana kau tahu bahwa hidup itu selalu berbalas?’ tanyaku terkejut.
            ‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.
Setelah mengatakan itu ia segera mengangkat tasnya dan berlalu pergi.
            ‘hei! Kau sungguh sangat aneh, bung!’ kataku agak mengeraskan volume suaraku.
Entah apakah ia mendengarnya atau tidak. Karena tentu saja ia sudah cukup jauh berjalan.
Keesokan harinya, ia melakukannya lagi.
Ia mengumpulkan dana keseluruh penjuru kampus lagi. Bernyanyi macam-macam lagu  dengan gitarnya yang keren. Sebelumnya aku selalu berfikir dia mungkin bodoh atau agak gila.
Dia pintar, kaya, dan berwajah bak pangeran dalam komik buatan jepang. Tapi mengapa ia melakukannya? Mengamen berkeliling setiap hari. Dia pikir kampus ini untuk apa? Tempat menggalang dana?
Sampai akhirnya kemarin, aku akhirnya memiliki sedikit keberanian untuk bertanya langsung padanya.
Ia baru saja selesai bermain basket. Dengan menggunakan seragam basket oranye miliknya, ia duduk dibagian depan tribun sebelah kiri. Sedang meneguk air dalam sebuah botol yang juga bewarna oranye.
            ‘untuk apa kau melakukannya?’ tanyaku tiba-tiba.
Karena terkejut, ia tersedak.
            ‘sejak kapan kau ada disini?’ tanyanya masih dalam ekspresi keterkejutannya.
            ‘aku baru saja datang’ kataku.
            ‘kau pasti sangat menikmati air minummu sampai tidak menyadari 
             kedatanganku’ lanjutku.
            ‘baiklah. Mau apa kau?’ tanyanya.
            ‘untuk apa kau melakukannya? Maksudku, mengamen setiap hari
             dilingkungan kampus. Uang yang kau dapat itu, pastilah tidak untuk kau
             nikmati sendiri. Lantas, kenapa kau melakukannya?
             aku bertanya karena tidak ada satupun orang yang tahu kenapa kau
             melakukannya’ terangku.
            ‘hei.. ada apa denganmu?
             kenapa kau ingin tahu urusan orang lain?
             urus saja dirimu sendiri’ jawabnya ketus.
            ‘aku..
             hanya ingin tahu kenapa kau melakukannya.
             untuk apa kau melakukannya?’ kataku tak mau mengalah.
Ia menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab,
            ‘baiklah. Aku akan memberitahumu’
            ‘terima kasih’ balasku sembari tersenyum.
            ‘aku adalah anak yatim piatu..
             kedua orang tuaku meninggal pada sebuah kecelakaan mobil.
             saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun.
             sebagai anak tunggal, aku mewarisi seluruh kekayaan mereka.
             aku hidup dengan 5 orang pelayan, 2 orang bodyguard, dan seorang tukang
             kebun.
             tapi hidupku tetap terasa sepi. Jadi aku membangun sebuah panti, dan
             menggalang dana setiap hari untuk mengusir rasa sepiku’ terangnya.
            ‘um.. kau sungguh memiliki cara yang aneh untuk mengusir rasa sepimu’ jawabku tanpa pikir panjang.
‘yah aku hanya menunggu balasan dari apa yang telah aku lakukan.
 karena hidup selalu berbalas, aku menunggu balasan kebahagiaan dari
 panti itu’ terangnya lagi.
‘bagaimana kau tahu bahwa hidup itu selalu berbalas?’ Tanyaku terkejut.
‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.


 

Senin, 19 Mei 2014

10 kemungkinan

mungkin kamu tidak bisa merubah dunia
mungkin belum..
mungkin kamu merasa hari terlalu berat untuk dilewati
mungkin karena kamu terlalu banyak mengeluh
mungkin kamu iri mengapa tidak serupa dengan mereka
mungkin karena kamu kurang bersyukur
mungkin sesungguhnya kamu istimewa
dan mungkin, kamu hanya belum menyadarinya
dan mungkin ketika kamu menyadarinya
kamu akan bisa merubah dunia ini menjadi lebih ceria
hidup ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang menjengkelkan
tapi mungkin kamu hanya perlu menikmatinya

Minggu, 18 Mei 2014

Bahagia itu Sederhana

tak perlu lah kau seberangi pulau untuk temukan bahagia
karna ia ada dibawah pijakan kakimu kemarin dan saat ini
tak perlu kau impikan bahagia..
karna ia ada dalam nyatamu setiap saat

saat matahari mulai terbit, sampai ia tenggelam
bahagia itu sederhana
sesederhana kata yang ia punya

Ba-ha-gia

Jumat, 09 Mei 2014

Hujan Terakhir Bersama Koji

            Hari sudah gelap saat rapat mingguan usai. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mengantuk. Bagaimana tidak? Rapat hari ini memakan waktu sampai 3 jam setengah!
Ditambah lagi semalam aku baru jatuh tertidur pukul 2 pagi setelah menonton film hantu. Aku benci film hantu. Tapi entah mengapa aku selalu penasaran untuk menontonnya sampai akhir.
            Diluar, hujan sedang turun dengan derasnya. Aku menggosok mata sebelah kanan dan menguap lebar.
            “kau seperti hendak menelanku saja” kata seseorang yang entah darimana asal suaranya.
Aku membuka mata sedikit dan menyadari bahwa ternyata sejak tadi aku tidaklah sendirian. Setidaknya ada 3 orang yang sedang duduk berhadapan denganku. Dan 2 orang yang masing-masing duduk disebelah kanan dan kiriku.
Aku kembali menguap.
Yang barusan bicara tadi pasti adalah dado. Sebab hanya ia yang menatap menakutkan kearahku. Sementara yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sedang membaca komik, ada yang sedang sibuk berkirim sms, dan lain-lain.
            “aku bukan penjahat.
              berhentilah menatapku seperti itu” kataku akhirnya.
            “akan kulakukan. Tapi berhentilah menguap lebar seolah kau hendak menelan
              seseorang” katanya dingin.
Aku tersedak mendengar apa yang dikatakan  dado. Aku hendak melemparnya dengan sepatu tepat ketika koji datang.
Siapa koji?
Dia kakak kandungku.
Kakak laki-laki sematawayangku.
Tentu saja, kami kan hanya dua bersaudara.
Dia tampan. Tapi payah dalam hal mendekati wanita.
            “siap untuk pulang?” tanyanya padaku sembari tersenyum lebar.
Aku segera bangkit dari kursiku, melotot kearah dado dan menarik lengan koji menjauh dari tempat itu.
            “siapa dia?” tanya koji dalam perjalanan pulang kami.
            “yang mana?” tanyaku terkantuk-kantuk.
            “pria yang kau pelototi tadi?” balas koji tersenyum.
            “ohh.. dia dado. Teman SMA-ku. Sikapnya selalu dingin pada semua orang.
              aku tak menyangka akan bertemu dengannya di universitas.
              Sebenarnya sama sekali tak berharap” kataku sembari menguap entah untuk yang keberapa puluh kalinya.
Koji tersenyum.
            “wah sepertinya adik kecilku mengantuk ya? Entah apa yang kau dan teman-temanmu
              Rapatkan sampai larut malam begini” katanya mengacak-acak rambutku.
Sesampainya dirumah, aku segera menuju kekamarku dan tidur dengan manja.
***
Ketika pagi datang..
            “bangun, kei!!” koji mengguncang-guncangkan bahuku.
Rasanya baru saja aku tertidur selama 10 menit. Aku mengintip sedikit dan bertanya ada apa.
            “kei!” koji membentak.
Aku segera menegakkan diri. Samar-samar kuperhatikan koji tersenyum.
            “kuliahmu libur kan? Ayo kita pergi ke danau hari ini” ajak koji dengan semangat membara.
            “apa?” tanyaku masih dengan mata tertutup.
            “kei..” koji memukul kepalaku dengan bantal.
***
            1 jam kemudian kami sudah sampai didanau kesukaan koji.
            “coba hirup udara nan segar ini kei!” kata koji sembari menghirup udara dalam-dalam. Aku mencoba menutup mata dan mempraktekkan apa yang dikatakan koji.
Namun sayang, beberapa saat kemudian. Perutku memberontak. Aku lapar.
Koji tertawa.
            “itu suara perut paling keren yang pernah aku dengar, kei. Kau lapar ya? Ayo kita cari
              Sesuatu untuk dimakan”.
Terdengar hebat. Seolah kami mencari batu, rumput, atau apapun yang ada di dekat danau untuk dimakan.
            “koji, bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku sembari mengunyah sepotong besar humburger. Yup. Kami akhirnya berhasil menemukan sebuah kedai yang berjarak kurang lebih setengah kilometer dari danau.
            “hebat” jawabnya singkat.

            “apa dado meneleponmu tadi malam?” tanya koji.
Aku tersedak.
            “koji! Mana mungkin. Aku benci dia!” jawabku meluap-luap.
Koji hanya tersenyum mendengar jawabanku.
Setelah menghabiskan 2 buah humburger ukuran besar, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Aku duduk meringkuk sembari memeluk lutut. Menatap butir demi butir hujan yang mampir di jendela ruang santai ini. Mencoba mengenang kembali masa-masa 5 tahun yang lalu. Ketika koji datang menjemputku karna aku pulang terlalu larut setelah rapat. Mengenang hujan terakhir bersama koji setelah kami pergi kedanau. Makan dikedai humburger, dan pulang dalam keadaan hujan deras.
Mengenang peristiwa ketika mobil yang kami tumpangi disambar truk hijau besar dari arah kanan. Yang kemudian membuatku tidak mengingat apapun yang terjadi setelah itu.
Aku hanya ingat ketika tiba-tiba terbangun dan sedang terbaring dirumah sakit dengan kepala yang diperban.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Tapi kemudian, ketika samar-samar terdengar suara seorang wanita yang kuyakini adalah suara ibuku.
Aku akhirnya mengingat semua yang telah terjadi.
Seperti tersengat listrik. Tangisku akhirnya pecah.
Wanita itu berseru dengan tangisan yang menyayat hati.
            “koji sudah pergi! Ia sudah pergi untuk selamanya”.
***
Butir-butir hujan masih membasahi kaca jendela. Semakin deras, semakin ramai mengintip seolah ingin menerobos masuk.
            “kau melakukannya lagi” seru dado.
Aku segera mengeringkan wajah dengan kedua telapak tangan. Rupanya semua kenangan ini menguras keluar air mataku.
Dado datang dengan membawa 2 gelas kopi panas dan kemudian duduk disampingku.
            “hari ini hujan turun lagi. Dan kau mengenangnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
              Dia pastilah seorang kakak yang istimewa” ucap dado mengusap sisa-sisa air mataku. Tak sanggup bicara. Aku hanya tersenyum.
Koji sudah tahu. Ia sudah tahu bahwa dado yang akan menjadi pandampingku.
Dan bagaimana dia tahu?

Itulah yang ingin kutanyakan padanya. Di kehidupan yang selanjutnya.

Kamis, 08 Mei 2014

sajak rindu

Hei rasa, berhentilah mengejek.
berhentiah bertingkah macam kanak-kanak
berhentilah bermain-main
sudah bukan saatnya
sudah bukan lagi