Kamis, 27 Maret 2014


Based on my own true story :v

Hanya 17 orang!
                                  
       Bingung. Aku sangat bingung harus melakukan apa. Sebagai ketua dari ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja) di sekolah. Tidak banyak yang sudah aku capai. Mulai dari pembuatan apotik hidup yang hanya bertahan 1 bulan, gagalnya pambuatan pupuk kompos dari daun, dan juga semakin berkurangnya para anggota dari minggu ke minggu.
Aku bingung. Resah dan mungkin galau.
Aku menemukan titik terang yang mungkin bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menarik kembali para anggota yang sudah tidak berambisi lagi dengan ekstrakurikuler KIR, ketika salah seorang anggota berpendapat, “dew, gimana kalo kita ngadaain acara seminar motivasi gitu..”
“seminar motivasi?” aku menanggapi.
“iya.. siapa tau itu bisa jadi jalan supaya anggota kita balik lagi” terangnya.
“wahh, boleh tuh! Kenapa ga dari dulu kasih ide yang beginian, mel” jawabku.
“hehe.. iya juga ya” meli tersipu.
Dan akhirnya aku, meli dan anggota lain yang masih tersisa pun mulai menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan yang berkaitan dengan pengadaan seminar motivasi tersebut.
Kami sepakat akan menamakan seminar ini “one step closer to the kir”.
Lelah, penat, dan pusing dengan segala urusan mengenai proposal, brosur kir, perserta seminar, pemateri, dan snack.
Akhirnya segala persiapan pun selesai.
“huh.. akhirnya rebes juga” dodi berkata sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.
Namun, sayang seribu kali sayang.
Acara seminar kami pun harus di tunda. Karena tanpa sepengetahuan kami, ternyata ekstrakurikuler Rohis pun mengadakan acara dengan hari, tempat dan waktu yang sama dengan kami.
Aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengeluh.
Semua orang juga sudah tahu kalau ekstrakurikuler Rohis jauh lebih, lebih dan lebih di bandingkan dengan KIR.
Dan ironisnya, hampir dari sebagian anggota KIR adalah anggota Rohis juga.
Jadi sudah pasti mereka akan lebih memilih Rohis daripada KIR..
            Seminggu kemudian, jadwal seminar motivasi KIR akhirnya dapat di laksanakan. Tanpa hambatan, tanpa hujan, dan tanpa angin topan.
Pagi itu, aku terbangun dengan suasana hati yang resah dan kepala yang di penuhi dengan berbagai pertanyaan seperti misalnya, “bagaimana jika yang datang hanya sedikit?”, “bagaimana jika aku tidak baik saat memberikan sambutan?” dan lain sebagainya.
Aku merasa gugup. Sebenarnya sudah dari semalam aku merasa gugup.
Entahlah, padahal aku sudah cukup terbiasa bicara di hadapan banyak orang.
            Acara seminar akan di mulai pada pukul 09.00, tapi aku sudah sibuk sejak pukul 6 pagi.
Setelah menjemput dan memaksa fika untuk ikut berpartisipasi dalam seminar ini. Yang sebenarnya dia bukanlah anggota KIR.
Aku (bersama dengan fika), akhirnya sampai di sekolah sekitar pukul 7 pagi.
Dan aku terkejut karena..
Sekolah masih begitu lengang. Sepi. Gerbang sekolah pun masih tertutup rapat.
Aku mencoba memanggil-manggil pak baim (penjaga sekolah) untuk segera membukakan pintu gerbang.
Tapi sayang, sepertinya ia masih sibuk berkutat dengan selimut dan bantal gulingnya.
Setelah sekian lama mencoba memanggil-manggil pak baim, dan ia tidak kunjung datang.
Aku mulai mencari cara lain.
“kalo kita manjat gerbang aja gimana?” aku melirik fika.
“hah? Ga mau ah. Bisa berabe kalo jatoh..” jawab fika yang tidak setuju dengan ide brilianku.
Aku sudah mulai putus asa ketika akhirnya pak baim datang dengan muka kusut, mata mengantuk, dan rambut berantakannya.
Tanpa basa-basi lagi, ia langsung membukakan pintu gerbang dan membiarkan kami masuk.
“pak baim abis begadang nonton sinetron ya..?” tanyaku iseng seraya meledeknya.
Sekitar pukul 9, para anggota yang lain mulai berdatangan.
“dew, kok masih sepi?” Tanya adit.
“iya, dew. Kok masih sepi?” mona ikut bertanya.
“sabar.. mungkin mereka masih di jalan..” jawabku sok bijak.
Padahal, jika saja mereka tahu bahwa mungkin aku adalah satu-satunya orang yang paling khawatir saat ini. Jika saja mereka tahu bahwa aku sangat khawatir jika anggota yang hadir hanya sedikit.
“oh tidak..” ujar batinku.
Pemateri sudah datang ketika waktu menunjukkan pukul 10 pagi.
Dan ternyata..
Hanya 17 orang anggota yang hadir.
Benar.
Hanya 17 orang!
            Akhirnya kami memaksakan diri untuk segera memulai acara.
“assalammualaikum wr.wb. selamat pagi semuanya. Puji syukur kehadirat Allah swt…” dina sang MC memulai acara.
Acara kemudian di lanjutkan dengan sambutan dari Pembina ekstrakurikuler KIR.
Terlihat beberapa siswa yang menguap.
Akhirnya sambutan pun selesai.
“sekarang tibalah ketua KIR kita, Dewi purnama sari yang akan memberika sambutannya..” ucap dina sambil memberiku isyarat untuk segera memberi sambutan.
Aku melangkah maju ke depan. Gugup. Dan kemudian mulai memberikan sambutan.
Sial, di tengah-tengah sambutan, aku lupa kalimat yang harus aku ucapkan berikutnya. Aku berpikir cepat. Secepat kucingku menyambut makanannya saat ia sedang kelaparan.
Aku mengarang.
Setelah kurasa cukup. Dan setelah ku lihat para anggota yang lain lagi-lagi menguap.
Aku pun akhirnya mengakhiri sambutanku.
            Kini tibalah saat acara inti, “seminar motivasi”. Semua anggota (yang hanya 17 orang) memberikan tepuk tangan kepada pemateri “kak imam” yang segera maju ke depan.
Kak imam masih seorang mahasiswa. Tapi ia sudah mahir menjadi pemateri dalam seminar-seminar.
Ia terlihat berwibawa, bijaksana dan manis.
Manis?
Intinya, dia terlihat seperti tipe orang yang bisa menyenangkan hati orang lain. Tipe yang mampu mencairkan suasana yang dingin.
Dan itu semua terbukti saat ia memulai aksinya. Aksi memberi kami motivasi dengan cara yang santai dan menyenangkan.
Kemudian acara pun tiba di sesi game, salah seorang teman kami yang bernama yusna berhasil di hipnotis oleh kak imam.
Yusna di berikan sugesti seolah ia adalah kak imam.
Maka ruangan pun penuh dengan suara tawa yang membahana ketika melihat tingkah lucu yusna yang mengira dirinya adalah kak imam.
Kemudian setelah kak imam kembali memberikan sugesti pada yusna bahwa ia bukanlah kak imam. Dan setelah yusna kebingungan bertanya pada yang lain “apa sebenarnya yang telah terjadi?”.
Acara pun di mulai dengan renungan.
Semua anggota menangis haru. Kak imam benar-benar telah berhasil membuat seluruh ruangan tampak mengharu biru.
Padalah beberapa menit yang lalu suara tawalah yang memenuhi ruangan.
Setelah semua anggota membuka mata dan mampu menguasai rasa sedih.
Acara selanjutnya adalah menyantap snack yang sedah di sediakan.
ada 60 snack.
Ya, 60!
Kami memperkirakan ada sekitar 60 orang yang akan datang. Tapi ternyata separuh dari 60 pun tidak.
Akhirnya masing-masing anggota menerima 2 snack. Itu pun masih cukup banyak snack yang tersisa.
60..
Ternyata hanya 17..
Acara pun di tutup dengan do’a.
Dan setelah itu kami semua pulang.
Di perjalanan pulang, aku hanya terdiam. Dan setelah mengantarkan fika pulang. Aku banyak berpikir. Berpikir tentang apa yang salah? Bertanya pada diri sendiri “ada apa?”.
Ahh entahlah..
Aku hanya bisa mengambil satu kesimpulan.
Mungkin aku..
Aku adalah ketua yang buruk.
60..
Ternyata hanya 17..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar