Based on my own true story :v
Hanya 17
orang!
Bingung.
Aku sangat bingung harus melakukan apa. Sebagai ketua dari ekstrakurikuler KIR
(karya ilmiah remaja) di sekolah. Tidak banyak yang sudah aku capai. Mulai dari
pembuatan apotik hidup yang hanya bertahan 1 bulan, gagalnya pambuatan pupuk
kompos dari daun, dan juga semakin berkurangnya para anggota dari minggu ke
minggu.
Aku bingung. Resah dan mungkin galau.
Aku menemukan titik terang yang mungkin bisa menjadi
senjata yang ampuh untuk menarik kembali para anggota yang sudah tidak berambisi
lagi dengan ekstrakurikuler KIR, ketika salah seorang anggota berpendapat,
“dew, gimana kalo kita ngadaain acara seminar motivasi gitu..”
“seminar motivasi?” aku menanggapi.
“iya.. siapa tau itu bisa jadi jalan supaya anggota
kita balik lagi” terangnya.
“wahh, boleh tuh! Kenapa ga dari dulu kasih ide yang
beginian, mel” jawabku.
“hehe.. iya juga ya” meli tersipu.
Dan akhirnya aku, meli dan anggota lain yang masih
tersisa pun mulai menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan yang berkaitan
dengan pengadaan seminar motivasi tersebut.
Kami sepakat akan menamakan seminar ini “one step
closer to the kir”.
Lelah, penat, dan pusing dengan segala urusan
mengenai proposal, brosur kir, perserta seminar, pemateri, dan snack.
Akhirnya segala persiapan pun selesai.
“huh.. akhirnya rebes juga” dodi berkata sambil
mengusap keringat yang ada di dahinya.
Namun, sayang seribu kali sayang.
Acara seminar kami pun harus di tunda. Karena tanpa
sepengetahuan kami, ternyata ekstrakurikuler Rohis pun mengadakan acara dengan
hari, tempat dan waktu yang sama dengan kami.
Aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengeluh.
Semua orang juga sudah tahu kalau ekstrakurikuler
Rohis jauh lebih, lebih dan lebih di bandingkan dengan KIR.
Dan ironisnya, hampir dari sebagian anggota KIR
adalah anggota Rohis juga.
Jadi sudah pasti mereka akan lebih memilih Rohis
daripada KIR..
Seminggu
kemudian, jadwal seminar motivasi KIR akhirnya dapat di laksanakan. Tanpa
hambatan, tanpa hujan, dan tanpa angin topan.
Pagi itu, aku terbangun dengan suasana hati yang
resah dan kepala yang di penuhi dengan berbagai pertanyaan seperti misalnya,
“bagaimana jika yang datang hanya sedikit?”, “bagaimana jika aku tidak baik
saat memberikan sambutan?” dan lain sebagainya.
Aku merasa gugup. Sebenarnya sudah dari semalam aku
merasa gugup.
Entahlah, padahal aku sudah cukup terbiasa bicara di
hadapan banyak orang.
Acara seminar akan di mulai pada pukul 09.00, tapi aku
sudah sibuk sejak pukul 6 pagi.
Setelah menjemput dan
memaksa fika untuk ikut berpartisipasi dalam seminar ini. Yang sebenarnya dia
bukanlah anggota KIR.
Aku (bersama dengan
fika), akhirnya sampai di sekolah sekitar pukul 7 pagi.
Dan aku terkejut
karena..
Sekolah masih begitu
lengang. Sepi. Gerbang sekolah pun masih tertutup rapat.
Aku mencoba
memanggil-manggil pak baim (penjaga sekolah) untuk segera membukakan pintu
gerbang.
Tapi sayang, sepertinya
ia masih sibuk berkutat dengan selimut dan bantal gulingnya.
Setelah sekian lama
mencoba memanggil-manggil pak baim, dan ia tidak kunjung datang.
Aku mulai mencari cara
lain.
“kalo kita manjat
gerbang aja gimana?” aku melirik fika.
“hah? Ga mau ah. Bisa
berabe kalo jatoh..” jawab fika yang tidak setuju dengan ide brilianku.
Aku sudah mulai putus
asa ketika akhirnya pak baim datang dengan muka kusut, mata mengantuk, dan
rambut berantakannya.
Tanpa basa-basi lagi,
ia langsung membukakan pintu gerbang dan membiarkan kami masuk.
“pak baim abis begadang
nonton sinetron ya..?” tanyaku iseng seraya meledeknya.
Sekitar pukul 9, para
anggota yang lain mulai berdatangan.
“dew, kok masih sepi?”
Tanya adit.
“iya, dew. Kok masih
sepi?” mona ikut bertanya.
“sabar.. mungkin mereka
masih di jalan..” jawabku sok bijak.
Padahal, jika saja
mereka tahu bahwa mungkin aku adalah satu-satunya orang yang paling khawatir
saat ini. Jika saja mereka tahu bahwa aku sangat khawatir jika anggota yang
hadir hanya sedikit.
“oh tidak..” ujar
batinku.
Pemateri sudah datang
ketika waktu menunjukkan pukul 10 pagi.
Dan ternyata..
Hanya 17 orang anggota
yang hadir.
Benar.
Hanya 17 orang!
Akhirnya kami memaksakan diri untuk segera memulai acara.
“assalammualaikum
wr.wb. selamat pagi semuanya. Puji syukur kehadirat Allah swt…” dina sang MC
memulai acara.
Acara kemudian di
lanjutkan dengan sambutan dari Pembina ekstrakurikuler KIR.
Terlihat beberapa siswa
yang menguap.
Akhirnya sambutan pun
selesai.
“sekarang tibalah ketua
KIR kita, Dewi purnama sari yang akan memberika sambutannya..” ucap dina sambil
memberiku isyarat untuk segera memberi sambutan.
Aku melangkah maju ke
depan. Gugup. Dan kemudian mulai memberikan sambutan.
Sial, di tengah-tengah
sambutan, aku lupa kalimat yang harus aku ucapkan berikutnya. Aku berpikir
cepat. Secepat kucingku menyambut makanannya saat ia sedang kelaparan.
Aku mengarang.
Setelah kurasa cukup.
Dan setelah ku lihat para anggota yang lain lagi-lagi menguap.
Aku pun akhirnya
mengakhiri sambutanku.
Kini tibalah saat acara inti, “seminar motivasi”. Semua
anggota (yang hanya 17 orang) memberikan tepuk tangan kepada pemateri “kak
imam” yang segera maju ke depan.
Kak imam masih seorang
mahasiswa. Tapi ia sudah mahir menjadi pemateri dalam seminar-seminar.
Ia terlihat berwibawa,
bijaksana dan manis.
Manis?
Intinya, dia terlihat
seperti tipe orang yang bisa menyenangkan hati orang lain. Tipe yang mampu mencairkan
suasana yang dingin.
Dan itu semua terbukti
saat ia memulai aksinya. Aksi memberi kami motivasi dengan cara yang santai dan
menyenangkan.
Kemudian acara pun tiba
di sesi game, salah seorang teman kami yang bernama yusna berhasil di hipnotis
oleh kak imam.
Yusna di berikan
sugesti seolah ia adalah kak imam.
Maka ruangan pun penuh
dengan suara tawa yang membahana ketika melihat tingkah lucu yusna yang mengira
dirinya adalah kak imam.
Kemudian setelah kak
imam kembali memberikan sugesti pada yusna bahwa ia bukanlah kak imam. Dan
setelah yusna kebingungan bertanya pada yang lain “apa sebenarnya yang telah
terjadi?”.
Acara pun di mulai
dengan renungan.
Semua anggota menangis
haru. Kak imam benar-benar telah berhasil membuat seluruh ruangan tampak mengharu
biru.
Padalah beberapa menit
yang lalu suara tawalah yang memenuhi ruangan.
Setelah semua anggota
membuka mata dan mampu menguasai rasa sedih.
Acara selanjutnya
adalah menyantap snack yang sedah di sediakan.
ada 60 snack.
Ya, 60!
Kami memperkirakan ada
sekitar 60 orang yang akan datang. Tapi ternyata separuh dari 60 pun tidak.
Akhirnya masing-masing
anggota menerima 2 snack. Itu pun masih cukup banyak snack yang tersisa.
60..
Ternyata hanya 17..
Acara pun di tutup
dengan do’a.
Dan setelah itu kami semua
pulang.
Di perjalanan pulang,
aku hanya terdiam. Dan setelah mengantarkan fika pulang. Aku banyak berpikir.
Berpikir tentang apa yang salah? Bertanya pada diri sendiri “ada apa?”.
Ahh entahlah..
Aku hanya bisa
mengambil satu kesimpulan.
Mungkin aku..
Aku adalah ketua yang
buruk.
60..
Ternyata hanya 17..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar