CERITA CINTA SMA
sejak kejadian itu, dia
mulai berubah tidak ramah dan acuh tak acuh kepadaku. dia tidak bilang kepadaku
kenapa dia bersikap demikian, tentu
saja. aku merasa tidak enak, sangat tidak enak. kedekatan yang baru saja
terjalin tiba-tiba hilang. dia memang datang, dan aku bahkan sangat terkejut
dia benar-benar datang di hari ulang tahunku. kemudian ku tutup mataku
kubiarkan diriku terlarut di malam yang dingin ini.
dan keesokan harinya ketika sinar
sang surya menembus kaca jendelaku. akupun terbangun. kumulai hariku dengan
menyibak selimut dan pergi ke kamar mandi.
setelah selesai memakai seragam sekolahku, akupun pergi ke meja makan
dan kemudian minum segelas susu cokelat hangat. setelah itu, kulangkahkan
kakiku ke halaman dan mulai mengendarai sepeda motorku untuk pergi ke sekolah.
ketika aku sedang menikmati sensasi luar biasa diterpa udara sejuk pagi hari
yang selalu membuatku merasa layaknya seorang remaja sma, tiba-tiba..
tiiin…tinn…”ooiii sar,..” kudengar suara cowok di sampingku. ku buka kaca
helmku ku lirik dia dan ternyata dera teman sekelasku sedang tersenyum
kepadaku, kubalas senyumannya sambil berkata”tumben, der berangkat pagi”. “ia
ni sar, soalnya piket”, sahut dera dari atas motor kawasakinya. akupun menutup
kaca helmku dan mulai beradu kecepatan dengan dera. disekolah, ia masih
bersikap acuh tak acuh kepadaku. dialah egar, cowok yang kukira akan menjadi
sahabat terbaikku di sma ternyata berubah setelah yang kutahu kekasihnya
mengirim pesan kepadaku lewat handphone dan meledak tanpa sebab kepadaku. aku
tahu gadis itu hanya cemburu karena egar yang sempurna yang tak mungkin aku
miliki tiba-tiba saja memiliki kedekatan dengan gadis lain. dan setelah itu
yang kutahu hubungan egar dan kekasihnya semakin buruk, atau mungkin putus.
itulah mungkin sebabnya kenapa egar berubah.
“hei, sar!!” akupun terlonjak kaget
dan terbangun dari lamunan panjangku. “ngapain sih di perpus sendirian ntar
kesambet lho !!! ujar dera. “akh.. em.., ya bacalah ngapain lagi coba..???
sahutku. “iya aku tau, tapi ada ya orang baca tapi pikirannya malah
kemana-mana, mendingan kita ke kantin yuk.” tiba-tiba saja dera sudah menarik
lenganku dan menyeretku untuk menemaninya ke kantin.
dera memang teman sekelasku, begitu
pula egar. egar cowok dengan kulit putihnya, tinggi badannya yang jangkung,
hidungnya yang luar biasa mancung, dan rambut landaknya yang mempesona. aku
hampir yakin semua teman wanitaku pasti jatuh cinta padanya. tapi, dera sangat
berbeda dia bermata sipit yang terkadang terkesan agak jahil, dan pembawaannya
periang. sebenarnya ia adalah cowok yang tampan kalau saja ia sedikit agak
rapi. tentu saja dengan potongan rambut yang acak-acakan, pakaian yang selalu
tidak rapi, dan juga sepatu ardilesnya yang berdecit seperti tikus. tidak ada
satu gadis pun yang akan tertarik dengan dera. sebenarnya bukannya sama sekali
tidak ada. siska, cewek dengan kacamata minusnya yang super tebel dan rambut
kepang duanya yang berponi sangat mengidolakan dera. gadis ini membuktikannya
dengan cara mengirimi dera puisi cinta setiap hari. terkadang hal ini membuat
aku benar-benar geli , tentu saja setiap siska berusaha memberikan puisi
cintanya pada dera, dera akan langsung lari dan bersembunyi dimanapun yang dia
kira aman dari siska.
bel pulang pun berbunyi. seperti
biasa dera akan belajar bersama di rumahku . ketika aku sedang melintasi pintu
kelas bersama dera dan juga siswa lainnya. tiba-tiba aku melihat egar sedang
mengobrol dengan temannya, yang sepertinya siswa kelas lain. tepat ketika egar
sedang menoleh kearahku kurasakan ada sesuatu yang menarik lenganku. ternyata
dera, sepertinya ia sengaja melakukannya. karana tentu saja tadi aku seperti
orang bodoh yang mematung karena terpesona memandang egar. “ngapain sih, sar
kamu merhatiin egar terus??”. tiba-tiba dera bertanya kepadaku. “eh.., gak
apa-apa kok, der.” jawabku. “ jangan bilang kamu masih ngarep deket sama dia
setelah dia udah mempermainkan kamu, sar??” ujar dera marah kepadaku. “ apa???
mempermainkan aku? maksud kamu apa sih, der?? ini semua tu salah aku, aku yang
udah buat egar jauh dari aku.” jawabku. entah apa yang terjadi tiba-tiba saja
dera meledak dan berkata “ udahlah, sar. terserah kamu aja !! aku udah capek
dengerin keluh-kesah kamu tentang egar. asal kamu tau, sar. dia itu playboy,
dia itu Cuma mau mempermainkan perasaan kamu aja!! aku heran kenapa sih kamu
masih aja ngarepin dia. seandainya aja kamu tau sar, kalo aku tu sebenernya…,”
dera menghentikan ucapannya.” aku….!!! udahlah lupain aja.” dera pun pergi
meninggalkan aku sendiri dihalaman sekolah yang saat itu sudah mulai sepi. aku
masih berdiri disana, aku sangat terkejut dan tidak menyangka pada apa yang
baru saja terjadi. dera yang selalu riang gembira, tiba-tiba saja meledak tanpa
ampun padaku.
seminggu kemudian, dera sudah
kembali riang seperti biasanya. sepertinya ia sudah memutuskan untuk melupakan
kajadian itu. ia sudah ramah seperti biasa padaku, belajar bersama dirumahku,
beradu kecepatan motor sebelum sampai disekolah, berburu buku dan kaset, dan
berbagai aktifitas lainnya. entah mengapa menghabiskan waktu bersama dera jadi
lebih menyenangkan setelah kejadian itu. bahkan karena hubungan kami yang
begitu dekat ada beberapa teman yang mengira bahwa kami berpacaran. berpacaran
dengan dera. “ oh… tidak!!” jerit batinku. tentu saja hal ini sangat membuat
siska sang pemuja dera gusar. pernah suatu hari ia menanyakan langsung padaku
apakah aku dan dera berpacaran. aku pun menanggapinya dengan sangat geli. “
enggak kok, sis. aku sama dera Cuma temenan aja.” tak kusangka kalimat pendek
dariku itu bisa membuat siska lega dan girang setengah mati. tapi masalah
egar,..??? sudahlah.., aku kan harus berkonsentrasi pada kegiatan amal yang
baru saja aku rintis di sekolah. aku menjadi ketua dalam kegiatan ini. dan dera
menjadi sekretarisku. entah kenapa bisa begitu??. tapi ini sudah menjadi
keputusan para anggota jadi aku harus bisa menerimanya. hari-hariku sungguh di
sibukkan dengan kegiatan ini. seperti hari ini misalnya, aku dan teman-teman
sedang di sibukkan oleh kegiatan amal besar-besaran yang diadakan pihak sekolah
dalam rangka hari ulang tahun sekolah. sekolah kami bekerjasama dengan badan
amal provinsi untuk meminta sumbangan dari kelas-kekelas, dari satu sekolah ke
sekolah yang lain, dan bahkan kami juga turun kejalanan unuk meminta sumbangan
dari para pengendara sepeda motor. kegiatan ini sangat melelahkan, tapi selain
itu kegiatan ini juga menyenangkan. aku dan teman-teman bukan hanya menyanyi
untuk meminta sumbangan, tapi terkadang kami juga menari dan bahkan kami
menggunakan alat musik untuk melakukan semua itu. hasil yang kami dapat akan di
sumbangkan ke panti asuhan keseluruh daerah di provinsi. kegiatan ini akan
berlangsung selama satu minggu.
pada hari ketiga, tanpa ada suatu
apapun yang mencurigakan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku. “sar,..
sara…” aku berbalik dan kulihat egar berlari sambil mengangkat satu tangannya
kearahku. aku tersenyum dan berkata dalam hati “keren..!!”. “aku denger kamu
ketua dari k.a.s ini ya??”. egar bertanya. k.a.s adalah singkatan dari kegiatan
amal sekolah, yaitu kegiatan amal yang sedang kutekuni. “iya, gar..!” jawabku
singkat. “ aku boleh gabung??? aku denger dari temen-temen katanya asyik juga ikut
k.a.s” egar menjelaskan. “a…pa!! dia bilang apaa?? dia boleh gabung k.a.s apa enggak!! ya,. ampun, gar…!! mimpi aja aku
gak berani kamu bakal ikutan di k.a.s” ujar batinku girang. “oh,.. boleh kok,
gar”. “ boleh banget!!”. aku menambahkan dalam hati. “tapi kamu harus daftar
dulu sama dera, supaya nama kamu di data. dera sekretaris k.a.s”
aku menjelaskan pada egar. “ oh,.. dera temen sekelas kita kan, sar.” “ aku
denger juga dari temen-temen, katanya kamu baru aja jadian sama dera ya, sar.
bener gak nih??” timpal egar seperti ingin memastikan. “ hah… apa?? aku sama
dera jadian !! dapet berita dari mana, gar??
dera
itu Cuma sahabat aku, gak lebih!!” jawabku spontan. tapi egar hanya tersenyum
dan kemudian berkata “ yaudah makasih ya, sar.., dah !”. egar berlari
meninggalkan aku. sepertinya ia hendak menemui dera di kantor k.a.s untuk
mendaftarkan namanya.
hari itu seperti biasanya, dera
belajar bersama di rumahku. kami sedang menyelesaikan tugas matematika yang
diberikan bu tami. tiba-tiba dera bertanya padaku ”ngapain sih, sar. kamu
ngajak si egar buat ikutan kegiatan amal sekolah kita”. sambil menulis aku
menjawab dengan santai “aku gak pernah ngajak egar buat ikut k.a.s, der. dia
sendiri yang minta izin sama aku untuk jadi anggota k.a.s, lagian kan siapa aja
boleh ikut gabung di k.a.s “. “ iya aku tau, sar. siapa aja boleh kecuali
egar!!” dera agak membentakku. “kamu kenapa sih, der?? setiap ada suatu hal
yang berhubungan dengan egar, kamu pasti langsung marah-marah gak jelas.
sebenernya ada masalah apa sih antara kamu sama egar??”. aku membalas kalimat
dari dera. tapi dera hanya diam dan kemudian mengalihkan pembicaraan. “aku
pulang dulu ya, sar. udah sore nih. dera berkata sambil membereskan
buku-bukunya. setelah itu ia langsung mengendarai motor kawasakinya dan pulang.
tapi, aku merasa ada sesuatu yang ingin sekali ia sampaikan padaku. aku juga
tidak tahu apa itu?? aku hanya tahu bahwa dera tidak mau mengatakannya.
dalam perjalan pulang, tanpa
sepengetahuanku dera bergelut dengan hati nuraninya. apakah ia harus
mengkhianati persahabatannya denganku dan mengatakan bahwa ia
mencintaiku??.atau apakah ia harus memendam perasaannya untuk mempertahankan
persahabatannya denganku dan membiarkan egar mempermainkan perasaanku??.
kepalanya sakit memikirkan semua itu. dan tanpa ia sadari sebuah truk melaju
dengan sangat kencang dari arah depan dan menabraknya. dera terpental bersimbah
darah dari atas motornya sejauh 100 meter dan tidak sadarkan diri.
aku baru tahu bahwa dera mengalami
kecelakaan satu jam setelah semua itu terjadi. tante rima, ibunda dari dera
menelponku dan mengatakan bawa dera ada di rumah sakit. aku langsung menjatuhkan
handphoneku, mengambil kunci motorku, dan langsung pergi ke rumah sakit tanpa
memakai helm. sesampainya disana tante rima langsung memelukku erat, dan
berkata “ dera..,sar. dera ditabrak truk sepulang dari rumah kamu. aku langsung
terkejut setengah mati, perutku mulas, kepalaku pusing. dan yang bisa kulakukan
saat itu adalah menangis. “kapala dera terbentur trotoar di bagian kiri, tangan
kanan dan kedua kakinya patah, dokter bilang ini keajaiban karena dera bisa
selamat”. tante rima menjelaskan padaku sambil terisak-isak.
“tadi doker sudah bilang, kalau
mereka gak sanggup menangani dera. dan sampai saat ini dera masih belum sadar.
mereka bilang dera harus di kirim ke Singapura untuk menjalani pengobatan lebih
intensif. saat ini dera Cuma di tanganin seadanya karena selain ketersediaan
alat-alat operasi yang terbatas, dera perlu dokter yang benar-benar ahli.
terutama untuk menangani tulang di kedua kaki dera. untuk itu kami semua sudah
memutuskan akan memberangkatkan dera ke singapura dengan pesawat malam ini”. om
setyo menjelaskan dengan ekspresi wajah yang sendu. “ om harap kamu mau
menemani tante rima dan gian selama om ada di singapura”. “ saya siap, om.
semoga semua operasi dera berjalan lancar ya, om”. jawabku masih menangis.
malam itu aku melihat semua wajah di
sekelilingku tampak murung, pucat, dan bahkan pesimis. sebelum di naikkan
kedalam pesawat, untuk terakhir kalinya aku melihat wajah dera yang pucat
seolah tidak berdarah. aku sama sekali tidak mengenali dera dengan keadaan yang
seperti itu. bahkan tadi aku sempat mengira bahwa dokter membawa pasien yang
salah. pesawat dera pun di berangkatkan, dengat tetesan air mata dan sejuta
do’a kami semua melepas kepergiannya.
pagi harinya, keadaan malah semakin
memburuk. itu di karenakan tante rima yang tiba-tiba sakit. semua ini membuat
aku dan gian, adik perempuan dera yang masih smp menjadi sangat kebingungan.
seminggu kemudian semua menjadi normal dengan sembuhnya tante rima dari sakit
demamnya. tapi, aku belum mendengar kabar apapun tentang dera dari om setyo.
sekolah, sibuk dengan k.a.s, membantu gian mengerjakan tugas sekolah, merupakan
serentetan kegiatanku selama di rumah dera. hingga pada suatu hari sebuah
pengakuan dari gian membuat aku terkejut dan seolah ada sesuatu yang
menyadarkanku bahwa apa yang dikatakan oleh gian memang benar adanya.
hari itu aku baru saja selesai
membantu gian mengarjakan tugas sekolahnya. “ kak, mau tau sesuatu tentang kak
dera gak??”. tiba-tiba ia berkata. “emm,, tentang apa nih??”. aku menjawab. “
sebenernya kak dera gak suka aku bilang sama siapa-siapa tentang ini apalagi
sama mama, tapi mungkin ini saat yang tepat buat kak sara tau yang sebenernya.
aku mendengarkan gian dengan seksama dan saat gian mengatakan “ sebenernya kak
dera sayang banget sama kak sara, bisa dibilang kak sara tu first love nya kak
dera”. aku terkejut setengah mati mendengar pengakuan gian. saat itu juga wajah
riang dera terlintas di benakku. senyumnya yang tanpa beban, perhatiannya
padaku, bagaimana tidak sukanya ia ketika aku dekat dengan egar. astaga kenapa
aku tidak pernah menyadari itu semua. sudah terlambatkah semuanya. “dera kenapa
kamu gak pernah bilang sama aku” ujar batinku. tiba-tiba terlintas saat hari
dera mengalami kecelakaan, saat itu aku merasa ia hendak mengatakan sesuatu
padaku. ternyata akhirnya aku tahu apa yang ingin sekali ia sampaikan padaku.
tapi sekarang dera tidak disini, ia sedang ada diantara hidup dan mati. tanpa
terasa air mataku mengalir di kedua pipiku. ketika gian mengetahuinya ia
langsung memelukku.
keesokan harinya ketika aku hendak
pergi kesekolah bersama gian, tante rima menerima telepon dari seseorang yang
ternyata dari om setyo, ayah dera. aku dan gian lansung kembali kedalam rumah
dan menghampiri tante rima yang sedang terisak dengan wajah pucat. sungguh aku
tidak suka melihat ekspresi tante rima yang seperti itu. setelah tante rima
menutup telepon. ia langsung pingsan tak sadarkan diri. tentu saja aku dan gian
terkejut dan ketakutan. tepat pada saat itu ada suara seseorang pria didepan
pintu. aku langsung berlari keluar dan menarik tangan orang asing itu tanpa
melihat wajahnya dan kemudian memintanya untuk membopong tante rima kekamar.
setelah tante rima sudah beristirahat tenang di kamarnya aku baru menyadari
bahwa orang asing yang kumintai tolong adalah seseorang yang sangat ku kenal
“egar !! ngapain kamu disini?? “. pekikku. “lho bukannya kamu yang narik aku
kedalam buat mindahin mamanya dera
kekamar” . sahut egar.
“
haah,.”aku terkulai lemas disofa. bingung, malu, dan sekaligus gelisah karena
saat itu sudah hampir jam 7, kalaupun aku pergi kesekolah mungkin masih sempat.
tapi, siapa yang akan menjaga tante rima?? akhirnya aku memutuskan untuk izin
dengan cara menelpn wali kelasku begitu juga dengan gian.tapi yang mambuatku
heran adalah egar melakukan hal yang sama. akupun menduga-duga apa tujuan egar
kamari. akhirnya akupun memutuskan untuk menanyakan hal ini padanya,
“sebenernya ada perlu apa kamu kesini, gar??” tanyaku padanya. egar yang saat
itu sedang menyeruput teh yang telah disediakan oleh gian tiba-tiba tersedak.
sambil terbatuk-batuk ia menjawab “ ya mau nemuin kamulah, sar”. “ tapikan kita
bisa ketemu di sekolah, gar”. sambungku.
“aku tau, sar”. tapi kalo disekolah
kamu kan gak pernah punya waktu sibuk sama k.a.s, ekskul, trus kegiatan yang
laennya. belum lagi kamu selalu pulang lebih awal dari yang laennya kan. gimana
aku bisa ngomong berdua sama kamu, sar . egar menjelaskan. aku hanya diam dan
egar melenjutkan “ aku udah tiga kali kerumah kamu, sar”. sampe aku tau
ternyata kamu tinggal dirumah dera buat nemenin adik dan mamanya dera. aku udah
tau tentang dera. aku turut berduka cita, sar. lanjut egar. “langsung aja deh,
gar.” sebenernya kamu mau ngomong apa sih??. aku berkata agak keras.
“aku…., sayang sama kamu, sar”. aku
mau kamu jadi pacar aku. aku pengen hubungan kita kayak dulu lagi. aku nyesel
udah buat kamu jauh dari aku, sar. egar berkata sambil menggenggam tanganku. pengakuan
dari gian, adik dera membuatku sungguh menyesal, tapi pengakuan dari egar
sungguh membuat ku lebih menyesal. entah mengapa aku menyesal pernah berkata
pada dera bahwa aku menyukai egar setelah aku tau dera mencintaiku dengan
setulus hati.
saat itu yang bisa kulakukan adalah
menghempaskan genggaman egar dan berkata “ sorry, gar. aku gak bisa”. hanya itu
yang bisa kukatakan pada egar setelah apa yang ia ungkapkan padaku. kemudian
aku berlari kekamar gian yang juga merupakan kamarku, sepertinya egar hendak
mengejarku.ia berhasil menarik lenganku. dan pada saat itu gian datang dan
berdiri ditengah-tengah aku dan egar. “ maaf, kak. aku gak tau kakak siapa??.
tapi sekarang kak sara lagi butuh istirahat”. gian berkata demikian dan
kemudian membukakan pintu untuk mempersilakan egar pulang. akhirnya egar pun
pulang.
sekitar pukul 10 pagi penyebab tente
rima pingsan akhirnya terkuak, sambil terisak tante rima menghampiri aku dan
gian yang sedang menonton tv. “ kalian harus sabar ia,.”. “maksud tante apa??”.
jawabku. tepat pada saat itu telepon rumah berdering. aku mengangkatnya dan
terdengar suara om setyo dari singapura. “halo, ini sara ia??”. “iya om, .”
jawabku riang. “ gimana keadaan dera, kapan dera pulang ??”. tapi, suara om
setyo seperti terpekik kaget “ sara, kamu…!!”. “tunggu dulu, jangan bilang
tante rima belum bilang apa-apa sama kamu dan gian..”. “tentang apa, om??”.
jawabku semakin bingung. terdengar hembusan nafas om setyo yang panjang
disambung dengan sebuah kalimat yang membuatku seolah menjadi gadis paling
jahat didunia. “nyawa dera gak bisa diselamatkan lagi,. semua dokter sudah
menyerah”. jenazah dera akan sampai di Indonesia malam ini. aku melepaskan
peganganku dari gagang telepon, hatiku hancur. aku merasa semuanya telah
berakhir. tante rima menghampiri dan kemudian memelukku. sedangkan gian
sepertinya sudah menangkap apa yang terjadi ia masuk kedalam kamarnya dan
kemudian menangis disana.
malam itu, aku, gian, dan tante rima
pergi kebandara untuk menanti kedatangan dera dan om setyo. ketika sebuah peti
diturunkan dari sebuah pesawat dan kemudian disusul dengan om setyo. seolah
langit merasakan apa yang kurasakan, tiba-tiba saja hujan turun dengan
lebatnya. para petugas yang sedang menurunkan peti mati dera tiba-tiba lenyap
entah kemana dan hanya menyisakan kabut putih yang dingin. dan ketika kulirik
om setyo, tante rima, dan gian pun telah berubah menjadi kepulan asap. aku
panik dan tidak percaya dengan apa yang kulihat, kemudian peti mati dera
terbuka dengan sendirinya dan dari dalam peti muncullah dera dengan mengenakan
pakaian serba putih, wajahnya pucat seperti tidak berdarah dan hal yang membuat
aku menjerit panik adalah wajah dera yang tiba-tiba dipenuhi darah segar. dera
menghampiriku. tapi aku berlari sambil menjerit, aku terantuk sesuatu dan
terjatuh. dan saat itu tangan dera hampir menyentuh wajahku.
“sar,, sara…!!” ku dengar dera
memanggilku. kubuka mataku sambil menatap sekelilingku dengan panik dan saat
itu kutemui sesosok wajah yang sangat aku kenal tapi ia tidak lagi berwajah
pucat ataupun dipenuhi darah. aku langsung memeluk sosok itu dan ia mengatakan
sesuatu padaku. “kamu mimpi, sar..”. aku melepas pelukanku dari dera dan mulai
menceritakan semuanya pada dera. setelah sekitar satu jam aku bercerita sampai
mulut dan kerongkonganku kering. “ kamu Cuma mimpi, sar..”. kamu inget kan kita
tadi lagi ngerjain tugas matematika..”. akhirnya dera bersuara. “ jadi semuanya
Cuma mimpi dan gak bener-bener kejadian kan..??” Tanyaku pada dera. “ semuanya
Cuma mimpi, sar..”. “ kecuali satu….!!”. aku memandang dera dan kemudian tertawa.
“huffft,.. udahlah der, ini semua gak lucu.. asal kamu tau, aku ketakutan setengah mati karna hampir aja
keilangan sahabat kayak kamu”. aku berkata sambil terus tertawa. “ sahabat,
sar..” ucap dera. aku hendak membalasnya tapi ia malah melanjutkan. “sebenernya….
aku… aku… sayang sama kamu, sar..”. “ udah lama banget aku pengen ungkapin ini
ke kamu.. tapi, kamu malah ngebahas tentang egar terus dan gak pernah kasih aku
kesempatan untuk bilang ini ke kamu”. “ aku pengen kita gak Cuma sekedar jadi
sahabat baik, sar..”. aku hanya diam karena sangat terkejut dengan pengakuan
dera. terlebih lagi setelah apa yang baru saja aku alami dalam mimpi. “ ya
udahlah, sar.. aku pulang dulu..”. “ maaf ia aku gak bisa jadi sahabat yang
baik buat kamu..”. setelah membereskan buku-bukunya dera pun pulang. ketika
baru saja dera melintasi teras depan rumahku. aku mengejarnya keluar kemudian
menarik tanganya dari belakang. “ kamu mau ninggalin aku gitu aja, der. setelah
apa yang udah aku alamin di dalem mimpi”. aku diam kemudian menghembuskan nafas
panjang. “ aku gak mau keilangan kamu untuk yang kedua kalinya, der..”. “ dera,
berbalik dan menghadap kearahku. ia menggenggam erat tanganku dan kemudian
memendang kearahku. “ jadi, kamu mau jadi pacar aku, sar..??” Tanya dera padaku.
“ akupun balik memandangnya dan mengangguk..”. sebagai jawabannya. dera
tersenyum dan bersorak dan kemudian memelukku erat. “ aku akan jadi pacar yang
paling baik buat kamu, sar..” .ucap dera masih memelukku. “
pagi ini seperti biasanya dera akan menjemputku
untuk pergi kesekolah. semenjak berpacaran dengan dera, aku tida lagi membawa
sepeda motor kesekolah. desas-desus tentang statusku dan dera sudah menyebar
luas di seluruh sekolah. tapi, kali ini aku menanggapinya dengan berkata “ eh..
iya bener kok..” atau “ tau dari mana..”. dan ternyata kabar ini pun telah
sampai ke telinga siska, cewek pemuja dera. tapi kenyataannya siska sudah punya
idola baru disekolah. iwan, cowok kutu buku yang memakai kacamata yang sama
tebalnya dengan siska. dan dari berita hangat yang kudengar mereka
berpacaran..!!!! . dan bicara soal egar. sepertinya ia tidak lagi sok jual
mahal di depanku. kabar yang kudengar dari teman-teman egar baru saja putus
dari cewek kelas lain bernama fira. dan akhirnya cerita cinta sma benar-benar
telah usai, .. kurasa !!”. siang ini sepertinya dera akan kembali menantangku
bermain basket. entah mengapa aku selalu menang melawannya. atau jangan-jangan
ia memang pura-pura kalah dariku..!!”. tapi, itu kan tidak mungkin. sudahlah
untuk apa aku memikirkan tentang itu.
Tamat..
Tamat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar