Taman Bells Bells
‘Apa yang kau sembunyikan, Bel?’ Al memaksa bella
untuk segera menampakkan kedua tangan yang ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Bella hanya menggeleng manja sebagai jawabannya.
‘Bel..’
Al selangkah mendekati bella.
Merasa terancam, bella pun mundur tiga langkah dari
posisinya semula.
‘Bel,
apa yang kau..’
Al berusaha menarik lengan bella. Tapi sayang bella
sudah berlari menjauh beberapa meter dari Al. mereka terus berkejaran selama
beberapa saat. Kelelahan, bella terpaksa memperlambat langkahnya.
Namun terlambat, Al sudah berhasil menangkap bella.
Memeluknya dari belakang.
Dengan sekuat tenaga bella mencoba meronta dan
akhirnya berhasil melepaskan diri dari Al.
‘baik
baik, akan kuberi tahu kau pak tua!’ setengah tersengal, bella mengedipkan
sebelah matanya. Memamerkan sebuah buku novel dengan sampul bewarna biru laut
dengan beberapa gambar ikan-ikan mengelilingi judul novel tersebut.
Al terbelalak saat membaca judul dan nama penulis
novel tersebut.
‘Aldrin
& Bella’
Dengan nama penulis Bella juwita.
‘Bella
kau..’ Al takjub dan sedikit tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Ia sungguh terkejut karna bella akhirnya berhasil
menerbitkan novelnya. Novel yang mengisahkan tentang kisah cinta mereka.
Novel yang juga memuat tentang semua masa lalu,
kegagalan. Mimpi dan harapan mereka di masa depan.
‘Aku
sekarang seorang penulis terkenal bodoh!
Kau
harus berbangga hati’ ucap bella seraya mengacak-ngacak rambut Al.
Masih ragu dengan apa yang dilihatnya. Al mengambil
novel itu dari tangan bella. Mencoba membaca judul demi judul yang ada di
dalamnya.
Sedikit geli dengan sikap Al.
Bella menggoda ‘hey, mau minta tanda tanganku?’.
Dan mereka kembali berkejaran ditaman yang mereka
sebut dengan ‘taman bells bells’ itu. Sebuah taman yang ditumbuhi berbagai
macam tanaman bunga.
Taman yang mana hanya mereka berdua yang tahu.
Taman yang akan menjadi kisah abadi dalam novel
bella.
***
‘Bel,
kau harus istirahat.
Kau
kelelahan’ Al mencoba membujuk bella saat mereka berkomunikasi melalui telepon genggam.
Jarum jam sudah menunjuk pada angka 1 pagi dan bella
masih sibuk dengan project novel keduanya.
‘aku baik-baik saja pak
tua.
Sungguh.
Aku
sama sekali tidak kelelahan’ bella mencoba membela diri’.
‘bel..’
suara Al terdengar hamper putus asa.
‘aku
akan menghubungimu besok. Kau tidurlah pak tua.
Daah..’.
Dan sambungan pun terputus.
Pukul 6 pagi bella terjaga dari tidurnya.
Menyadari bahwa ia tertidur di meja kerjanya dengan
laptop dihadapannya masih menyala.
Bella sedikit mengerang.
Ia merasakan sakit luar biasa pada bagian
pinggangnya.
‘aku
pasti mati kalau sampai tertidur dalam posisi seperti ini lagi’ pikirnya.
Ketika ia sedang terseok-seok meraih segelas air
diseberang meja kerjanya.
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
Menggumamkan nyanyian band papan atas padi dengan
maha dewi-nya.
‘halo,
Bel?’ sapa Al.
‘ah,
AL. maaf aku baru saja hendak menelponmu’ karang bella.
‘pukul
berapa kau tidur semalam?’ tanya Al.
‘um..
pukul 4
Sepertinya..’
jawab bella ragu.
‘dan
bangun pukul 6?’ ada nada kekecewaan dalam suara Al.
Bella hanya diam. Kehabisan kata untuk membela diri.
‘baiklah,
Bel.
Lakukanlah
apa yang ingin kau lakukan’ ucap Al yang langsung saja memutus pembicaraan.
Bella mematung.
Ia sama sekali tak menyangka Al akan bersikap
demikian padanya.
***
Siang pukul 12. Sakit
pada bagian pinggangnya semakin menyiksa. Bella bahkan tak sanggup untuk makan
ataupun minum. Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi lenny sahabatnya yang
juga seorang novelis.
‘halo len,
Aku butuh bantuanmu..’
rasa sakit membuat bella sedikit tersengal.
‘halo, bel.
Ada apa?’
Apa kau sakit?’ Tanya
lenny cemas.
‘tolong antar aku ke
rumah sakit, len’ suara bella terdengar semakin melemah.
‘rumah sakit?
Kau kenapa?
Halo, Bel?’
Sambungan tiba-tiba terputus.
Membuat lenny menjadi sangat panik.
Yang sebenarnya jauh disana. Rasa nyeri membuat
bella kehilangan kesadarannya.
Telepon genggamnya terjatuh dari pegangannya dan
berhamburan di lantai.
***
Segera saja Honda Jazz lenny dengan gesit melesat
dan berhenti tepat dihalaman depan rumah bella.
Lenny segera turun dan berlari masuk untuk menemui
bella.
‘bel,
kau dimana?’
Dengan panik lenny memanggil-manggil bella.
Lenny menelusuri seluruh ruangan dan tak juga
menemukan bella.
Ketika lenny membuka pintu kerja bella, dia amat terkejut
menyaksikan sahabatnya sudah tergeletak tak berdaya disamping meja kerjanya.
**
‘apa
yang terjadi padanya?’ Tanya Al dengan panik ketika ia baru saja sampai di
rumah sakit nusantara.
‘aku
tidak tahu, Al.
Tiba-tiba
saja dia menelpon dan memintaku untuk mengantarnya kerumah sakit.
Tiba-tiba
sambungan terputus. Dan ketika aku datang ia sudah tak sadarkan diri’ lenny
terisak mencoba menguasai diri.
‘semoga
ia baik-baik saja’ lanjutnya.
Al meremas rambutnya. Menyalahi ketololan atas
sikapnya pada bella pagi ini.
Mengumpat bahwa ia seharusnya mendukung dengan
sepenuh hati untuk apa yang sedang dikerjakan bella. Dan bukan sebaliknya.
Bella
masih tidak sadarkan diri untuk waktu beberapa saat. Seorang dokter wanita berperawakan
tinggi, berambut hitam sebahu, dan berlesung pipi yang biasa dipanggil dengan
nama dokter en akhirnya datang menghampiri Al dan lenny.
‘kalian
teman-teman bella?’ Tanya dokter en pada Al dan lenny.
‘benar!
Kami teman bella.
Bagaimana
kondisi bella, dok?’ lenny terlihat gugup dan sedikit pucat.
‘ahh..
Dengan
sangat menyesal kami beritahukan bahwa..
Kedua
ginjal bella tidak berfungsi dengan baik.
Pihak
rumah sakit sedang mencari tahu apa penyebabnya.
Tapi
setidaknya dalam waktu beberapa minggu ini bella harus segera menjalani
operasi’ dokter en menjelaskan.
‘operasi?’
Al mematung.
‘benar.
Apa
akhir-akhir ini bella terlalu membuat dirinya kelelahan?’ Tanya dokter en.
Al
dan lenny mengangguk lemah. Tak sanggup lagi bicara apa-apa.
‘baiklah.
Segera setelah bella menemukan cangkok ginjal yang tepat.
Ia
akan segera menjalani operasi’ setelah berkata begitu, dokter en segera
meninggalkan Al dan lenny.
***
Ketika
malam akhirnya tiba, bella siuman.
Mengetahui hal ini, Al langsung saja meminta maaf
dan menyalahkan dirinya sendiri pada bella.
‘hentikan,
Al.
Ini
bukan salahmu’ kata bella lembut.
‘sejak
kapan kau merasakan sakit?
Kenapa
kau tidak pernah bilang padaku, bel?’ Al bertanya dengan mata berkaca-kaca
sembari menggenggam telapak tangan kanan bella dengan erat.
‘aku..
Aku
akan baik-baik saja, Al.
Sungguh..’
bella enggan menjawab pertanyaan Al.
‘sudah
10 tahun kita berteman. Dan kau masih saja tidak berubah, bel.
Menyimpan
semuanya sendiri. Merasakan semuanya sendiri. Seolah kau baik-baik saja’ lenny
mengeluh.
‘aku
memang akan baik-baik saja lenny’ kata bella sembari tertawa riang.
***
Sudah
2 minggu bella masih belum juga menemukan cangkok ginjal yang cocok untuknya.
Tentu saja hal ini membuat Al begitu gusar.
Tak henti-hentinya ia berdo’a untuk kesembuhan bella.
Hujan rintik membasahi halaman rumah sakit. Hawa
dinginnya seolah merembes masuk melalui sela-sela dinding.
Membuat hati Al menjadi semakin dingin dan
menggigil.
‘kau
tidak pulang, Al?’ Tanya lenny dengan rambut dan pakaian yang sedikit basah.
Sepertinya ia baru saja sampai.
Al hanya menggeleng sembari tersenyum.
‘pulang
dan istirahatlah, Al’ lenny menepuk lembut punggung kanan Al.
‘tidak,
Len’ dan Al langsung saja masuk keruangan di mana bella sedang tertidur setelah
meminum setumpuk obat dari dokter en untuk mengurangi rasa sakitnya.
Membuat lenny mengeluh dalam hati.
Mengutuk mengapa Al tidak pernah mengerti dirinya.
Tak juga memahami perasaannya.
Dengan sangat terpaksa ia ikut masuk keruangan
bella.
***
3 minggu akhirnya
berlalu. Jam demi jam yang bagi bella amat melelahkan itu akhirnya berlalu
ketika pada suatu siang yang sejuk Al datang keruangannya dengan tergesa-gesa.
‘bel..
Kau sungguh akan baik-baik saja.
Kau akan segera sembuh.
Kau akan kembali menulis novel-novelmu! Kata Al tersengal
dengan keringat mengucur di dahinya.
Tingkah Al membuat
bella dan lenny terheran-heran dan mencoba menebak apa yang terjadi.
‘ada apa, Al’ Tanya lenny.
‘bella..’ katanya dengan napas yang masih tersengal.
‘aku baru saja menemui dokter en di ruangannya.
Dan kau tahu?
Bella sudah menemukan ginjal yang cocok untuknya.
Malam ini juga ia akan segera di operasi!’ Al melanjutkan
dengan ekspresi wajah sangat gembira.
‘apa?’ ucap lenny dengan mimik wajah yang sulit di tebak.
‘apa kau bergurau, Al.
Apa kau sedang membohongiku?’ bella mencoba menemukan
kebenaran dalam tatapan mata Al.
Mendengar bella bilang
begitu. Al langsung saja memeluk bella erat dan berbisik lembut di telinganya.
‘kau akan segera sembuh, bel’.
Dan hal itu membuat
hati lenny terbakar hangus.
Tidak tahan dengan
pemandangan itu, lenny memutuskan untuk segera pergi dari ruangan itu.
Siang hari ketika Al baru saja kembali dari membeli sebuah
boneka kelinci putih besar untuk bella. Ia menemukan lenny sedang berdiri di
depan ruangan bella yang sedang tertutup.
‘len, terima kasih sudah menjaga bella.
Aku tadi sengaja keluar untuk membeli ini’ kata Al
sembari menunjukkan boneka kelinci.
‘Tidak perlu berterima kasih, Al.
Kebetulan aku juga baru saja datang’ ucap lenny datar.
‘begitu..’ komentar Al.
Dan ketika Al hendak
meraih pegangan pintu kamar bella. Tanpa di duga lenny berusaha mencegahnya.
‘ada apa, len?’ kening Al berkerut.
Tanpa perlu menjawab,
lenny langsung saja meraih lengan Al. dan dengan agak terisak, ia mencoba
mengungkapkan perasaannya pada Al.
‘aku mencintaimu, Al.
Kenapa kau tidak pernah merasakannya?
Aku bahkan mengenalmu lebih dulu di banding bella.
Ada apa denganmu, Al?
Operasi bella belum tentu akan berjalan sesuai dengan apa
yang kita harapkan.
Kumohon mengertilah aku, Al.
Rasa ini sungguh menyiksaku!’ lenny semakin terisak.
Dengan seketika Al
menghempaskan genggaman lenny.
‘kau gila, len!
Apa kau bilang? Kau sudah berteman dengan bella selama 10
tahun?!
Aku bahkan sangat terkejut bella bisa berteman dengan
wanita sepertimu!’ amarah Al memuncak.
‘bella bella bella!!!!
Kenapa kau selalu saja bicara tentang bella!
Dan bagaimana dengan aku?!’ teriak lenny.
‘kau gila, len!’ balas Al.
‘aku tidak gila, Al!
Sungguh aku rela bella mati jika itu artinya kau bisa
membalas cintaku!!’ lenny semakin tak terkendali.
Al sudah tidak bisa
mengendalikan dirinya. Amarahnya memuncak dan sembari menunjuk lenny dengan
penuh emosi ia berkata ‘kau tidak pantas berteman dengan bella!’.
Al meletakkan boneka
kelinci putih itu di depan pintu kamar bella dan langsung beranjak pergi.
Meninggalkan lenny
dengan pipi penuh air mata dan luapan kekecewaan yang mendalam.
Tidak ada yang tahu.
Bahkan Al dan lenny pun tidak tahu kalau ternyata bella sudah
terjaga dari tidurnya dan mendengar semua perkataan mereka.
Bulir-bulir besar jatuh
dari kedua pipi bella.
***
Malam itu, 2 jam sebelum operasinya dimulai. Dokter en datang
menemui bella.
‘bel, apa kau merasa gugup?’ Tanya dokter en.
‘tidak, dokter en.
Um.. apa aku boleh memohon 1 permintaan terakhir?’ Tanya
bella sembari tersenyum.
‘permintaan?’ kening dokter en berkerut.
Bella mengangguk.
‘baiklah. Apa itu?’ Tanya dokter en.
‘um.. bisakah kau membatalkan operasi ini?
Dan dan.. biarkan aku pergi malam ini.
Ohya. Dan aku.. aku harap kau mau memberikan ini pada Al.
dan juga ini pada lenny’ bella memberika sebuah kado berwarna biru dan ungu
kepada dokter en.
‘bella juwita, kau tidak sedang bergurau kan?’ Tanya
dokter en terkejut.
Bella menggeleng.
‘tapi kau tidak akan bertahan lama, bel.
Mungkin juga tidak dalam waktu seminggu!’ tegas dokter
en.
‘itu akan jauh lebih baik, dok.
Setidaknya.. setidaknya hal itu bisa membuat lenny
bahagia’ bella berpura-pura tersenyum riang.
‘aku tidak mengerti jalan pikiranmu’ dokter en menggeleng
lemah.
‘ku mohon ijinkan aku pergi dokter en’ bella memaksa.
Dokter en diam.
Beberapa saat kemudian akhirnya ia mengangguk.
‘baiklah’ kata dokter en.
Dan bella pun tersenyum
dan memeluk dokter en erat.
Setelah berganti pakaian. Bella siap untuk pergi meninggalkan
rumah sakit. Dokter en sudah memesan sebuah taxi untuknya.
Dengan sebuah tas
ransel di punggung, bella kembali memeluk dokter en.
‘terima kasih’ bisiknya.
‘jaga dirimu baik-baik’ balas dokter en.
Bella melepaskan
pelukannya pada dokter en dan mulai melangkah pergi. Mencegah Al dan lenny
datang terlebih dahulu sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah sakit itu.
Taksi hijau toska sudah
menunggunya. Bella melambaikan tangan pada dokter en dan masuk ke dalam taxi.
Dokter en membalas
lambaian tangannya dan segera saja taxi itu melesat dengan cepat dan hilang
dari pandangan dokter en.
Dokter en menyeka air
mata dengan saputangan putihnya dan segera saja menuju ke ruangannya.
***
‘apa maksud anda bahwa bella pergi meninggalkan rumah sakit!!
Dia akan di operasi malam ini!’ Al hampir saja jatuh pingsan
ketika tidak menemukan bella di dalam ruangannya. Terlebih ketika ia mendengar
bahwa bella sudah pergi meninggalkan rumah sakit.
‘dengan sangat menyesal aku beritahukan bahwa bella sudah pergi
meninggalkan rumah
Sakit.
Dan ia menitipkan ini padaku untuk kalian berdua’ dokter en
menyerahkan sebuah kado bewarna biru kepada Al dan kado bewarna ungu kepada
lenny.
‘kalian akan paham apa yang terjadi setelah membukanya’ kata
dokter en singkat dan segera beranjak.
Dengan tangan gemetar
Al membuka kado itu. Ia mengeluarkan isinya. Ternyata subuah novel yang baru
setengah jadi dan sepucuk surat.
Al memutuskan untuk
membaca suratnya terlebih dahulu.
Dear Aldrin,
Halo Al?
Ketika kau membaca
surat ini. Aku pasti sudah sangat jauh dari rumah sakit.
Al, maaf karena aku
harus pergi.
Kau masih akan bahagia
tanpa aku.
Buatlah lenny bahagia
semampumu.
Jangan pedulikan aku.
Aku akan baik-baik saja.
Ohya, aku ingin kau
membaca project novel yang sedang ku kerjakan.
Yang tentu saja benyak
menyita waktuku untuk memperhatikanmu.
Project novel yang
banyak menyita waktu kita.
‘Taman Bells Bells’
Itu nama judul novel
yang sedang aku kerjakan.
Sama seperti novel
pertamaku ‘Aldrin & Bella’.
Novel ini juga
menceritakan kisah tentang kita.
Tepatnya tentang kita
dan sebuah taman yang kita namakan Taman Bells Bells.
Ingat ketika pertama
kali kita berdua menemukannya?
Kala itu sekolah baru
saja usai.
Aku bertaruh denganmu
untuk berlomba lari. Aku sudah sangat kelelahan tapi kau tidak juga menyerah.
Tanpa di duga, hujan
akhirnya turun.
Kau menggunakan jaketmu
untuk melindungiku dari hujan.
Sudah cukup jauh kita
mencari tempat berteduh. Tapi tidak juga kita menemukannya.
Karna sudak terlanjur
basah kita memutuskan untuk bermain air. Berjalan sejauh mungkin. Bergurau.
Tertawa.
Tanpa sengaja kau
terjatuh ke semak-semak. Tangan kananmu terluka dan berdarah. Tapi ketika aku
sedang berusaha menolongmu untuk bangun. Kau justru takjub dengan pemandangan
di belakangmu.
Membuatku penasaran
dengan apa yang kau lihat.
Kau akhirnya bangkit
dan langsung saja berlari. Aku mengikutimu.
Dan disanalah sebuah
taman bunga yang indah terhampar luas dan indah. Dan kau langsung saja
menamakannya Taman Bells Bells.
Aku protes kenapa Bells
Bells?
Dan kau menjawab karna
taman ini khusus di persembahkan untuk kau bella.
Membuatku tergelak
dengan jawaban bodohmu itu.
Dan akhirnya kita
selalu berkunjung ke taman itu setiap hari.
Haha, aku merindukanmu,
Al.
Sungguh merindukanmu..
aku tidak akan
melupakanmu.
~Bella
Surat itu jatuh dari tangan Al.
Al segera membaca judul
novel yang ada di tangannya ‘Taman Bells Bells’.
Dan ia segera jatuh
terduduk, menunduk, dan menangis.
Lain dengan lenny yang
membuka kado warna ungu dan ketika menemukan sebuah boneka teddy bear kecil
bertuliskan best friend forever segera saja menyadari segala kesalahannya.
Sementara itu, mobil
taxi telah menurunkan bella ke sebuah taman penuh kenangan.
Hujan akhirnya turun.
Bella memutuskan untuk duduk disebuah batu besar yang merupakan tempat
favoritnya.
Kenangan itu kembali
lagi. Kenangan ketika Al menggunakan jaketnya untuk melindungi bella dari
guyuran hujan.
Lalu bayangan 10 tahun
yang lalu muncul. Bayangan ketika ia dan lenny bersumpah untuk menjadi sahabat
selamannya.
Bersumpah untuk saling
menjaga boneka teddy bear yang merupakan simbol persahabatan mereka sampai
mereka tua dan renta.
Lalu tanpa menunggu
perintah.
Bulir-bulir airmata
jatuh dengan begitu derasnya. Sederas hujan yang mangguyur bella.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar