Sabtu, 22 Maret 2014

and i don't remember when exactly i wrote this -___-

 Taman Bells Bells

‘Apa yang kau sembunyikan, Bel?’ Al memaksa bella untuk segera menampakkan kedua tangan yang ia sembunyikan dibalik punggungnya.
Bella hanya menggeleng manja sebagai jawabannya.
            ‘Bel..’ Al selangkah mendekati bella.
Merasa terancam, bella pun mundur tiga langkah dari posisinya semula.
            ‘Bel, apa yang kau..’
Al berusaha menarik lengan bella. Tapi sayang bella sudah berlari menjauh beberapa meter dari Al. mereka terus berkejaran selama beberapa saat. Kelelahan, bella terpaksa memperlambat langkahnya.
Namun terlambat, Al sudah berhasil menangkap bella. Memeluknya dari belakang.
Dengan sekuat tenaga bella mencoba meronta dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari Al.
            ‘baik baik, akan kuberi tahu kau pak tua!’ setengah tersengal, bella mengedipkan sebelah matanya. Memamerkan sebuah buku novel dengan sampul bewarna biru laut dengan beberapa gambar ikan-ikan mengelilingi judul novel tersebut.
Al terbelalak saat membaca judul dan nama penulis novel tersebut.
            ‘Aldrin & Bella’
Dengan nama penulis Bella juwita.
            ‘Bella kau..’ Al takjub dan sedikit tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Ia sungguh terkejut karna bella akhirnya berhasil menerbitkan novelnya. Novel yang mengisahkan tentang kisah cinta mereka.
Novel yang juga memuat tentang semua masa lalu, kegagalan. Mimpi dan harapan mereka di masa depan.
            ‘Aku sekarang seorang penulis terkenal bodoh!
            Kau harus berbangga hati’ ucap bella seraya mengacak-ngacak rambut Al.
Masih ragu dengan apa yang dilihatnya. Al mengambil novel itu dari tangan bella. Mencoba membaca judul demi judul yang ada di dalamnya.
Sedikit geli dengan sikap Al.
Bella menggoda ‘hey, mau minta tanda tanganku?’.
Dan mereka kembali berkejaran ditaman yang mereka sebut dengan ‘taman bells bells’ itu. Sebuah taman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman bunga.
Taman yang mana hanya mereka berdua yang tahu.
Taman yang akan menjadi kisah abadi dalam novel bella.
***
            ‘Bel, kau harus istirahat.
            Kau kelelahan’ Al mencoba membujuk bella saat mereka berkomunikasi melalui telepon genggam.
Jarum jam sudah menunjuk pada angka 1 pagi dan bella masih sibuk dengan project novel keduanya.
‘aku baik-baik saja pak tua.
            Sungguh.
            Aku sama sekali tidak kelelahan’ bella mencoba membela diri’.
            ‘bel..’ suara Al terdengar hamper putus asa.
            ‘aku akan menghubungimu besok. Kau tidurlah pak tua.
            Daah..’.
Dan sambungan pun terputus.
Pukul 6 pagi bella terjaga dari tidurnya.
Menyadari bahwa ia tertidur di meja kerjanya dengan laptop dihadapannya masih menyala.
Bella sedikit mengerang.
Ia merasakan sakit luar biasa pada bagian pinggangnya.
            ‘aku pasti mati kalau sampai tertidur dalam posisi seperti ini lagi’ pikirnya.
Ketika ia sedang terseok-seok meraih segelas air diseberang meja kerjanya.
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering.
Menggumamkan nyanyian band papan atas padi dengan maha dewi-nya.
            ‘halo, Bel?’ sapa Al.
            ‘ah, AL. maaf aku baru saja hendak menelponmu’ karang bella.
            ‘pukul berapa kau tidur semalam?’ tanya Al.
            ‘um.. pukul 4
            Sepertinya..’ jawab bella ragu.
            ‘dan bangun pukul 6?’ ada nada kekecewaan dalam suara Al.
Bella hanya diam. Kehabisan kata untuk membela diri.
            ‘baiklah, Bel.
            Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan’ ucap Al yang langsung saja memutus pembicaraan.
Bella mematung.
Ia sama sekali tak menyangka Al akan bersikap demikian padanya.
***
Siang pukul 12. Sakit pada bagian pinggangnya semakin menyiksa. Bella bahkan tak sanggup untuk makan ataupun minum. Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi lenny sahabatnya yang juga seorang novelis.
‘halo len,
Aku butuh bantuanmu..’ rasa sakit membuat bella sedikit tersengal.
‘halo, bel.
Ada apa?’
Apa kau sakit?’ Tanya lenny cemas.
‘tolong antar aku ke rumah sakit, len’ suara bella terdengar semakin melemah.
‘rumah sakit?
Kau kenapa?
Halo, Bel?’
Sambungan tiba-tiba terputus.
Membuat lenny menjadi sangat panik.
Yang sebenarnya jauh disana. Rasa nyeri membuat bella kehilangan kesadarannya.
Telepon genggamnya terjatuh dari pegangannya dan berhamburan di lantai.
***

Segera saja Honda Jazz lenny dengan gesit melesat dan berhenti tepat dihalaman depan rumah bella.
Lenny segera turun dan berlari masuk untuk menemui bella.
            ‘bel, kau dimana?’
Dengan panik lenny memanggil-manggil bella.
Lenny menelusuri seluruh ruangan dan tak juga menemukan bella.
Ketika lenny membuka pintu kerja bella, dia amat terkejut menyaksikan sahabatnya sudah tergeletak tak berdaya disamping meja kerjanya.
**
            ‘apa yang terjadi padanya?’ Tanya Al dengan panik ketika ia baru saja sampai di rumah sakit nusantara.
            ‘aku tidak tahu, Al.
            Tiba-tiba saja dia menelpon dan memintaku untuk mengantarnya kerumah sakit.
            Tiba-tiba sambungan terputus. Dan ketika aku datang ia sudah tak sadarkan diri’ lenny terisak mencoba menguasai diri.
            ‘semoga ia baik-baik saja’ lanjutnya.
Al meremas rambutnya. Menyalahi ketololan atas sikapnya pada bella pagi ini.
Mengumpat bahwa ia seharusnya mendukung dengan sepenuh hati untuk apa yang sedang dikerjakan bella. Dan bukan sebaliknya.

            Bella masih tidak sadarkan diri untuk waktu beberapa saat. Seorang dokter wanita berperawakan tinggi, berambut hitam sebahu, dan berlesung pipi yang biasa dipanggil dengan nama dokter en akhirnya datang menghampiri Al dan lenny.
            ‘kalian teman-teman bella?’ Tanya dokter en pada Al dan lenny.
            ‘benar! Kami teman bella.
            Bagaimana kondisi bella, dok?’ lenny terlihat gugup dan sedikit pucat.
            ‘ahh..
            Dengan sangat menyesal kami beritahukan bahwa..
            Kedua ginjal bella tidak berfungsi dengan baik.
            Pihak rumah sakit sedang mencari tahu apa penyebabnya.
            Tapi setidaknya dalam waktu beberapa minggu ini bella harus segera menjalani operasi’ dokter en menjelaskan.
            ‘operasi?’ Al mematung.
            ‘benar.
            Apa akhir-akhir ini bella terlalu membuat dirinya kelelahan?’ Tanya dokter en.
            Al dan lenny mengangguk lemah. Tak sanggup lagi bicara apa-apa.
            ‘baiklah. Segera setelah bella menemukan cangkok ginjal yang tepat.
            Ia akan segera menjalani operasi’ setelah berkata begitu, dokter en segera meninggalkan Al dan lenny.
***
            Ketika malam akhirnya tiba, bella siuman.
Mengetahui hal ini, Al langsung saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri pada bella.
            ‘hentikan, Al.
            Ini bukan salahmu’ kata bella lembut.
            ‘sejak kapan kau merasakan sakit?
            Kenapa kau tidak pernah bilang padaku, bel?’ Al bertanya dengan mata berkaca-kaca sembari menggenggam telapak tangan kanan bella dengan erat.
            ‘aku..
            Aku akan baik-baik saja, Al.
            Sungguh..’ bella enggan menjawab pertanyaan Al.
            ‘sudah 10 tahun kita berteman. Dan kau masih saja tidak berubah, bel.
            Menyimpan semuanya sendiri. Merasakan semuanya sendiri. Seolah kau baik-baik saja’ lenny mengeluh.
            ‘aku memang akan baik-baik saja lenny’ kata bella sembari tertawa riang.
***
            Sudah 2 minggu bella masih belum juga menemukan cangkok ginjal yang cocok untuknya.
Tentu saja hal ini membuat Al begitu gusar.
Tak henti-hentinya ia berdo’a untuk kesembuhan bella.
Hujan rintik membasahi halaman rumah sakit. Hawa dinginnya seolah merembes masuk melalui sela-sela dinding.
Membuat hati Al menjadi semakin dingin dan menggigil.
            ‘kau tidak pulang, Al?’ Tanya lenny dengan rambut dan pakaian yang sedikit basah.
Sepertinya ia baru saja sampai.
Al hanya menggeleng sembari tersenyum.
            ‘pulang dan istirahatlah, Al’ lenny menepuk lembut punggung kanan Al.
            ‘tidak, Len’ dan Al langsung saja masuk keruangan di mana bella sedang tertidur setelah meminum setumpuk obat dari dokter en untuk mengurangi rasa sakitnya.
Membuat lenny mengeluh dalam hati.
Mengutuk mengapa Al tidak pernah mengerti dirinya. Tak juga memahami perasaannya.
Dengan sangat terpaksa ia ikut masuk keruangan bella.
***
             3 minggu akhirnya berlalu. Jam demi jam yang bagi bella amat melelahkan itu akhirnya berlalu ketika pada suatu siang yang sejuk Al datang keruangannya dengan tergesa-gesa.
            ‘bel..
            Kau sungguh akan baik-baik saja.
            Kau akan segera sembuh.
            Kau akan kembali menulis novel-novelmu! Kata Al tersengal dengan keringat mengucur di dahinya.
Tingkah Al membuat bella dan lenny terheran-heran dan mencoba menebak apa yang terjadi.
            ‘ada apa, Al’ Tanya lenny.
            ‘bella..’ katanya dengan napas yang masih tersengal.
            ‘aku baru saja menemui dokter en di ruangannya.
            Dan kau tahu?
            Bella sudah menemukan ginjal yang cocok untuknya.
            Malam ini juga ia akan segera di operasi!’ Al melanjutkan dengan ekspresi wajah sangat gembira.
            ‘apa?’ ucap lenny dengan mimik wajah yang sulit di tebak.
            ‘apa kau bergurau, Al.
            Apa kau sedang membohongiku?’ bella mencoba menemukan kebenaran dalam tatapan mata Al.
Mendengar bella bilang begitu. Al langsung saja memeluk bella erat dan berbisik lembut di telinganya.
            ‘kau akan segera sembuh, bel’.
Dan hal itu membuat hati lenny terbakar hangus.
Tidak tahan dengan pemandangan itu, lenny memutuskan untuk segera pergi dari ruangan itu.
      Siang hari ketika Al baru saja kembali dari membeli sebuah boneka kelinci putih besar untuk bella. Ia menemukan lenny sedang berdiri di depan ruangan bella yang sedang tertutup.
            ‘len, terima kasih sudah menjaga bella.
            Aku tadi sengaja keluar untuk membeli ini’ kata Al sembari menunjukkan boneka kelinci.
            ‘Tidak perlu berterima kasih, Al.
            Kebetulan aku juga baru saja datang’ ucap lenny datar.
            ‘begitu..’ komentar Al.
Dan ketika Al hendak meraih pegangan pintu kamar bella. Tanpa di duga lenny berusaha mencegahnya.
            ‘ada apa, len?’ kening Al berkerut.
Tanpa perlu menjawab, lenny langsung saja meraih lengan Al. dan dengan agak terisak, ia mencoba mengungkapkan perasaannya pada Al.
            ‘aku mencintaimu, Al.
            Kenapa kau tidak pernah merasakannya?
            Aku bahkan mengenalmu lebih dulu di banding bella.
            Ada apa denganmu, Al?
            Operasi bella belum tentu akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
            Kumohon mengertilah aku, Al.
            Rasa ini sungguh menyiksaku!’ lenny semakin terisak.
Dengan seketika Al menghempaskan genggaman lenny.
            ‘kau gila, len!
            Apa kau bilang? Kau sudah berteman dengan bella selama 10 tahun?!
            Aku bahkan sangat terkejut bella bisa berteman dengan wanita sepertimu!’ amarah Al memuncak.
            ‘bella bella bella!!!!
            Kenapa kau selalu saja bicara tentang bella!
            Dan bagaimana dengan aku?!’ teriak lenny.
            ‘kau gila, len!’ balas Al.
            ‘aku tidak gila, Al!
            Sungguh aku rela bella mati jika itu artinya kau bisa membalas cintaku!!’ lenny semakin tak terkendali.
Al sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Amarahnya memuncak dan sembari menunjuk lenny dengan penuh emosi ia berkata ‘kau tidak pantas berteman dengan bella!’.
Al meletakkan boneka kelinci putih itu di depan pintu kamar bella dan langsung beranjak pergi.
Meninggalkan lenny dengan pipi penuh air mata dan luapan kekecewaan yang mendalam.
      Tidak ada yang tahu.
      Bahkan Al dan lenny pun tidak tahu kalau ternyata bella sudah terjaga dari tidurnya dan mendengar semua perkataan mereka.
Bulir-bulir besar jatuh dari kedua pipi bella.
***
      Malam itu, 2 jam sebelum operasinya dimulai. Dokter en datang menemui bella.
            ‘bel, apa kau merasa gugup?’ Tanya dokter en.
            ‘tidak, dokter en.
            Um.. apa aku boleh memohon 1 permintaan terakhir?’ Tanya bella sembari tersenyum.
            ‘permintaan?’ kening dokter en berkerut.
Bella mengangguk.
            ‘baiklah. Apa itu?’ Tanya dokter en.                                                             
            ‘um.. bisakah kau membatalkan operasi ini?
            Dan dan.. biarkan aku pergi malam ini.
            Ohya. Dan aku.. aku harap kau mau memberikan ini pada Al. dan juga ini pada lenny’ bella memberika sebuah kado berwarna biru dan ungu kepada dokter en.
            ‘bella juwita, kau tidak sedang bergurau kan?’ Tanya dokter en terkejut.
Bella menggeleng.
            ‘tapi kau tidak akan bertahan lama, bel.
            Mungkin juga tidak dalam waktu seminggu!’ tegas dokter en.
            ‘itu akan jauh lebih baik, dok.
            Setidaknya.. setidaknya hal itu bisa membuat lenny bahagia’ bella berpura-pura tersenyum riang.
            ‘aku tidak mengerti jalan pikiranmu’ dokter en menggeleng lemah.
            ‘ku mohon ijinkan aku pergi dokter en’ bella memaksa.
Dokter en diam. Beberapa saat kemudian akhirnya ia mengangguk.
            ‘baiklah’ kata dokter en.
Dan bella pun tersenyum dan memeluk dokter en erat.

      Setelah berganti pakaian. Bella siap untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Dokter en sudah memesan sebuah taxi untuknya.
Dengan sebuah tas ransel di punggung, bella kembali memeluk dokter en.
            ‘terima kasih’ bisiknya.
            ‘jaga dirimu baik-baik’ balas dokter en.
Bella melepaskan pelukannya pada dokter en dan mulai melangkah pergi. Mencegah Al dan lenny datang terlebih dahulu sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah sakit itu.
Taksi hijau toska sudah menunggunya. Bella melambaikan tangan pada dokter en dan masuk ke dalam taxi.
Dokter en membalas lambaian tangannya dan segera saja taxi itu melesat dengan cepat dan hilang dari pandangan dokter en.
Dokter en menyeka air mata dengan saputangan putihnya dan segera saja menuju ke ruangannya.
***
      ‘apa maksud anda bahwa bella pergi meninggalkan rumah sakit!!
      Dia akan di operasi malam ini!’ Al hampir saja jatuh pingsan ketika tidak menemukan bella di dalam ruangannya. Terlebih ketika ia mendengar bahwa bella sudah pergi meninggalkan rumah sakit.
      ‘dengan sangat menyesal aku beritahukan bahwa bella sudah pergi meninggalkan rumah
      Sakit.
      Dan ia menitipkan ini padaku untuk kalian berdua’ dokter en menyerahkan sebuah kado bewarna biru kepada Al dan kado bewarna ungu kepada lenny.
      ‘kalian akan paham apa yang terjadi setelah membukanya’ kata dokter en singkat dan segera beranjak.
Dengan tangan gemetar Al membuka kado itu. Ia mengeluarkan isinya. Ternyata subuah novel yang baru setengah jadi dan sepucuk surat.
Al memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
     
Dear Aldrin,

Halo Al?
Ketika kau membaca surat ini. Aku pasti sudah sangat jauh dari rumah sakit.
Al, maaf karena aku harus pergi.
Kau masih akan bahagia tanpa aku.
Buatlah lenny bahagia semampumu.
Jangan pedulikan aku. Aku akan baik-baik saja.
Ohya, aku ingin kau membaca project novel yang sedang ku kerjakan.
Yang tentu saja benyak menyita waktuku untuk memperhatikanmu.
Project novel yang banyak menyita waktu kita.
‘Taman Bells Bells’
Itu nama judul novel yang sedang aku kerjakan.
Sama seperti novel pertamaku ‘Aldrin & Bella’.
Novel ini juga menceritakan kisah tentang kita.
Tepatnya tentang kita dan sebuah taman yang kita namakan Taman Bells Bells.
Ingat ketika pertama kali kita berdua menemukannya?
Kala itu sekolah baru saja usai.
Aku bertaruh denganmu untuk berlomba lari. Aku sudah sangat kelelahan tapi kau tidak juga menyerah.
Tanpa di duga, hujan akhirnya turun.
Kau menggunakan jaketmu untuk melindungiku dari hujan.
Sudah cukup jauh kita mencari tempat berteduh. Tapi tidak juga kita menemukannya.
Karna sudak terlanjur basah kita memutuskan untuk bermain air. Berjalan sejauh mungkin. Bergurau. Tertawa.
Tanpa sengaja kau terjatuh ke semak-semak. Tangan kananmu terluka dan berdarah. Tapi ketika aku sedang berusaha menolongmu untuk bangun. Kau justru takjub dengan pemandangan di belakangmu.
Membuatku penasaran dengan apa yang kau lihat.
Kau akhirnya bangkit dan langsung saja berlari. Aku mengikutimu.
Dan disanalah sebuah taman bunga yang indah terhampar luas dan indah. Dan kau langsung saja menamakannya Taman Bells Bells.
Aku protes kenapa Bells Bells?
Dan kau menjawab karna taman ini khusus di persembahkan untuk kau bella.
Membuatku tergelak dengan jawaban bodohmu itu.
Dan akhirnya kita selalu berkunjung ke taman itu setiap hari.
Haha, aku merindukanmu, Al.
Sungguh merindukanmu..
aku tidak akan melupakanmu.

~Bella

      Surat itu jatuh dari tangan Al.
Al segera membaca judul novel yang ada di tangannya ‘Taman Bells Bells’.
Dan ia segera jatuh terduduk, menunduk, dan menangis.

Lain dengan lenny yang membuka kado warna ungu dan ketika menemukan sebuah boneka teddy bear kecil bertuliskan best friend forever segera saja menyadari segala kesalahannya.
Sementara itu, mobil taxi telah menurunkan bella ke sebuah taman penuh kenangan.
Hujan akhirnya turun. Bella memutuskan untuk duduk disebuah batu besar yang merupakan tempat favoritnya.
Kenangan itu kembali lagi. Kenangan ketika Al menggunakan jaketnya untuk melindungi bella dari guyuran hujan.
Lalu bayangan 10 tahun yang lalu muncul. Bayangan ketika ia dan lenny bersumpah untuk menjadi sahabat selamannya.
Bersumpah untuk saling menjaga boneka teddy bear yang merupakan simbol persahabatan mereka sampai mereka tua dan renta.
Lalu tanpa menunggu perintah.
Bulir-bulir airmata jatuh dengan begitu derasnya. Sederas hujan yang mangguyur bella.



 Tamat

                       
     




Tidak ada komentar:

Posting Komentar