Minggu, 30 Maret 2014


'this short story is special for our daddy. love u, dad!'

Sepatu untuk Ayah


            Pukul 5 pagi, ketika ayam jago milik tetangga berkokok lantang untuk ukuran seekor ayam.
aku terbangun dari tidur yang panjang. Setelah mengerjap-ngerjap sekaligus melamun cukup lama.
Aku akhirnya melompat dari tempat tidur untuk bersiap pergi ke sekolah.
pukul setengah 7 pagi, aku siap untuk berangkat.
            “sudah siap pergi kesekolah, bar?” Tanya ayah yang juga sudah siap pergi bekerja.
Ayah adalah seorang buruh tani.
tentu saja orang-orang akan tahu dari topi caping yang ayah kenakan dan sebuah pacul yang sering ayah panggul dibahunya.
Dan percaya atau tidak. Hamper seluruh orang tua di kampong ini bekerja sebagai buruh tani!
            “belajar yang rajin ya, bar.
              terus semangat’ kata ayah sembari mengacak-acak rambutku.
            “baik, yah” jawabku riang.
Kalian pasti bertanya-tanya tentang ibuku.
ibu?
aku tak pernah tahu seperti apa rupa ibuku.
ibu meninggal dunia ketika usiaku baru beranjak 1 tahun setengah. Ayah bahkan tak punya selembar pun foto ibu.
jadi, aku menerka-nerka ibu pastilah memiliki wajah yang sangat cantik.
karna bibi Jo pernah berkata padaku, bahwa dulu ibu adalah primadona di kampong ini.
Setelah berjalan selama 15 menit. Gedung sekolah SMP Harapan akhirnya terlihat.
aku segera memasuki kelas 7A untuk memulai tugas piketku.
Hari ini hari rabu.
pelajaran hari ini dimulai dengan geografi, kemudian istirahat. Yang kemudian dilanjutkan dengan matematika dan bahasa Indonesia.
Pukul setengah 2 siang. Sekolah pun berakhir.
aku segera berlari secepat mungkin untuk sampai dirumah.
besok adalah hari ulang tahun ayah. Aku ingin membelikan ayah sepasang sepatu yang bagus.
selama ini ayah hanya memakai sepasang sandal jepit yang sudah pudar warnanya untuk dipakai pergi ke pesta pernikahan ataupun khitanan di kampung ini.
Dengan sedikit terengah-engah, akupun segera masuk kedalam rumah.
tentu saja ayah sedang tidak ada di rumah. Ayah baru akan pulang pukul setengah 6 sore.
Aku masuk kedalam kamar dan meraih celengan berbentuk gitarku.
kuangkat tinggi-tinggi celenganku, dan kuhempaskan keras-keras ke lantai.
Dan wow..
aku terkejut dengan uang yang sudah kekumpulkan selama ini. Uang ini pastilah lebih dari cukup untuk membeli sepasang sapatu baru.
setelah berganti pakaian, aku bergegas pergi ke toko sepatu.
            “cari sepatu untuk siapa, dik?” Tanya seorang kakak manis berambut sebahu.
            “um.. aku mencari sepatu untuk ayah” jawabku singkat.
            “silahkan lihat-lihat” katanya ramah.
            “terima kasih” balasku.
Tak butuh waktu lama, aku akhirnya menemukan sepatu yang cocok untuk ayah.
setelah membayar, aku tersenyum puas dan beranjak pulang.
***
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah pukul 4 pagi.
tidak, bukan karna aku tidak memiliki jam dinding dirumah sehingga tidak tahu  bahwa berangkat ke sekolah pukul 4 pagi bukanlah hal yang lazim.
Aku memang sengaja melakukannya.
aku tahu ayah akan bangun pukul setengah 5 pagi. Maka aku harus bangun dan berangkat kesekolah lebih pagi untuk meletakkan hadiah sepasang sepatu yang kemarin kubeli plus sebuh pesan di meja ruang tamu.
aku tidak mau memberikannya secara langsung kepada ayah karena aku tak suka melihat mata ayah berair.
Sekali aku melihat mata ayah berair ketika aku jatuh dari sepeda dan lututku berdarah diusia 7 tahun.
Sebenarnya, seperti orang bodoh saja datang kesekolah pukul 4 pagi. Diluar bahkan masih sangat gelap.
sesekali suara burung hantu yang berbunyi uhuu-uhuu membuatku terkejut dan waspada.
Dan dirumah, diluar sepengetahuanku.
ayah sedang membaca pesan dariku.
‘Ayah, ketika ayah membaca pesan ini.
 aku akan suda ada disekolah.
semoga ayah suka sepatunya.
selamat ulang tahun’
Ayah menyentuh sepasang sepatu itu.
mendekapnya erat didadanya.
dan beberapa saat kemudian.
matanya mulai berair.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar