I ever told the world that 'being a girl is not that easy'. I mean, sometimes it is very difficult to be a girl. A happy girl. It is very complicated to be a girl. A friendly girl. We spent a lot of time to choose a lot of dresess just to attend our friend's wedding party. And you know what? We only come for about 10 minutes in that party. We never feel perfect. Never. Sometimes, when we see ourselves in a mirror, we feel too fat, too thin, too short, too black, too ugly, or too beautiful (:)). But we always happy being a girl. And i realize, being a girl is the most thing i really want in this world. But ya, i am a girl.
tidak butuh pemahaman untuk membaca tulisan2 disini.. anda hanya perlu membacanya :')! best regards, D
Minggu, 31 Mei 2015
Being a girl
Senin, 25 Mei 2015
Bentuk yang lain
Warna awan memang selalu sama. Putih. Tanpa kita benar2 tahu kalau awan memang bewarna putih. Tapi kita mempercayainya. Kita meyakininya. Karena.. semua orang memiliki anggapan yang sama. Mungkin. Tapi kita harus memandang jeli, kalau ada hal yang jauh Lebih menarik dibandingkan warna. Bentuk. Ya, karena dalam hal ini, awan nampaknya tak pernah memiliki bentuk yang sama. Tidak. Seperti kita? Tidak. Karena kita buka benda mati. Karena awan tidak bernyawa. Karena kita adalah kita. Aku menulis ini dengan penuh keraguan. Dengan setumpuk ketakutan yang membayangi hari esok. Tapi aku bukan penakut. Bukan pula seorang pemberani. Aku hanya serupa seperti yang lain. Serupa, tapi tak pernah sama. Seperti bentuk2 awan putih dilangit. Nampak tanpa pijakan, mengapung, ringan. Ya, seperti awan2 dengan bentuk yg lain setiap saat. Nampak berbeda. Tetapi sebenarnya hanya ilusi.
Selasa, 19 Mei 2015
Dia
Hey. Dia menulis lagi malam ini. Kata demi kata yg ia tuliskan seperti air yang mengalir didalam pikiran. Seperti tidak ada batu-batu besar penghalang. Tidak ada hambatan. Seperti semua kata seolah memang ditakdirkan untuk ada disana. Ketika membaca tulisannya, aku merenung sesaat, bukan macam renungan kosong atau kebanyakan orang menyebutnya dengan kata 'melamun', tapi renungan yang seperti ada sebuah film pendek didalam pikiran. Oh ya benar, tentu kita menyebutnya dengan kata 'imajinasi'. Agak sedikit berlebihan mungkin, atau bisa dibilang terlalu dipaksakan. Tapi ketika menikmati kata demi kata yang ia tuliskan, aku seperti terjatuh dalam pada sebuah kisah negeri dongeng yang dulu sering sekali aku ceritakan, hadir, dan menjadi teman hari-hari menjadi orang dewasa yang membosankan. Entahlah, tapi ia.. Ia berhasil membuatku membawa kembali negeri dongeng itu. Lengkap dengan istana, pangeran berkuda putih, ibu peri, dan puteri cantik dengan gaun putih yang sungguh indah. Membawa kembali, dongeng-dongeng lama yang memang seharusnya tidak pernah terkuburkan.