Minggu, 30 Maret 2014


'this short story is special for our daddy. love u, dad!'

Sepatu untuk Ayah


            Pukul 5 pagi, ketika ayam jago milik tetangga berkokok lantang untuk ukuran seekor ayam.
aku terbangun dari tidur yang panjang. Setelah mengerjap-ngerjap sekaligus melamun cukup lama.
Aku akhirnya melompat dari tempat tidur untuk bersiap pergi ke sekolah.
pukul setengah 7 pagi, aku siap untuk berangkat.
            “sudah siap pergi kesekolah, bar?” Tanya ayah yang juga sudah siap pergi bekerja.
Ayah adalah seorang buruh tani.
tentu saja orang-orang akan tahu dari topi caping yang ayah kenakan dan sebuah pacul yang sering ayah panggul dibahunya.
Dan percaya atau tidak. Hamper seluruh orang tua di kampong ini bekerja sebagai buruh tani!
            “belajar yang rajin ya, bar.
              terus semangat’ kata ayah sembari mengacak-acak rambutku.
            “baik, yah” jawabku riang.
Kalian pasti bertanya-tanya tentang ibuku.
ibu?
aku tak pernah tahu seperti apa rupa ibuku.
ibu meninggal dunia ketika usiaku baru beranjak 1 tahun setengah. Ayah bahkan tak punya selembar pun foto ibu.
jadi, aku menerka-nerka ibu pastilah memiliki wajah yang sangat cantik.
karna bibi Jo pernah berkata padaku, bahwa dulu ibu adalah primadona di kampong ini.
Setelah berjalan selama 15 menit. Gedung sekolah SMP Harapan akhirnya terlihat.
aku segera memasuki kelas 7A untuk memulai tugas piketku.
Hari ini hari rabu.
pelajaran hari ini dimulai dengan geografi, kemudian istirahat. Yang kemudian dilanjutkan dengan matematika dan bahasa Indonesia.
Pukul setengah 2 siang. Sekolah pun berakhir.
aku segera berlari secepat mungkin untuk sampai dirumah.
besok adalah hari ulang tahun ayah. Aku ingin membelikan ayah sepasang sepatu yang bagus.
selama ini ayah hanya memakai sepasang sandal jepit yang sudah pudar warnanya untuk dipakai pergi ke pesta pernikahan ataupun khitanan di kampung ini.
Dengan sedikit terengah-engah, akupun segera masuk kedalam rumah.
tentu saja ayah sedang tidak ada di rumah. Ayah baru akan pulang pukul setengah 6 sore.
Aku masuk kedalam kamar dan meraih celengan berbentuk gitarku.
kuangkat tinggi-tinggi celenganku, dan kuhempaskan keras-keras ke lantai.
Dan wow..
aku terkejut dengan uang yang sudah kekumpulkan selama ini. Uang ini pastilah lebih dari cukup untuk membeli sepasang sapatu baru.
setelah berganti pakaian, aku bergegas pergi ke toko sepatu.
            “cari sepatu untuk siapa, dik?” Tanya seorang kakak manis berambut sebahu.
            “um.. aku mencari sepatu untuk ayah” jawabku singkat.
            “silahkan lihat-lihat” katanya ramah.
            “terima kasih” balasku.
Tak butuh waktu lama, aku akhirnya menemukan sepatu yang cocok untuk ayah.
setelah membayar, aku tersenyum puas dan beranjak pulang.
***
Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah pukul 4 pagi.
tidak, bukan karna aku tidak memiliki jam dinding dirumah sehingga tidak tahu  bahwa berangkat ke sekolah pukul 4 pagi bukanlah hal yang lazim.
Aku memang sengaja melakukannya.
aku tahu ayah akan bangun pukul setengah 5 pagi. Maka aku harus bangun dan berangkat kesekolah lebih pagi untuk meletakkan hadiah sepasang sepatu yang kemarin kubeli plus sebuh pesan di meja ruang tamu.
aku tidak mau memberikannya secara langsung kepada ayah karena aku tak suka melihat mata ayah berair.
Sekali aku melihat mata ayah berair ketika aku jatuh dari sepeda dan lututku berdarah diusia 7 tahun.
Sebenarnya, seperti orang bodoh saja datang kesekolah pukul 4 pagi. Diluar bahkan masih sangat gelap.
sesekali suara burung hantu yang berbunyi uhuu-uhuu membuatku terkejut dan waspada.
Dan dirumah, diluar sepengetahuanku.
ayah sedang membaca pesan dariku.
‘Ayah, ketika ayah membaca pesan ini.
 aku akan suda ada disekolah.
semoga ayah suka sepatunya.
selamat ulang tahun’
Ayah menyentuh sepasang sepatu itu.
mendekapnya erat didadanya.
dan beberapa saat kemudian.
matanya mulai berair.


hujan dan kerinduan

Aku tak mampu menulis apapun kecuali tentang kerinduan.
aku mampu mengendalikan laju lari tapi tak mampu menahan kerinduan.
seperti hujan yang tak ada satu orang pun yang mampu mengendalikannya.
hujan hanya jatuh dari atas langit.
hanya jatuh..
mengalir..
dan kemudian menguap.
hujan tidak sama dengan rasa rindu.
hujan tidak datang setiap hari.
tapi kerinduan?
ia datang kapanpun ia suka.
ia datang saat seraut wajah terlintas dalam benak pikiran.
kapanpun..
dimanapun..


Jumat, 28 Maret 2014

Tidak Selamanya
“apa yang sedang kau lakukan, hah?”
suaranya mengagetkanku. Hampir saja aku menjatuhkan setumpuk buku biologi yang sedang ku peluk.
sebenarnya akan lebih bagus kalau tumpukan buku ini kulemparkan tepat didepan wajahnya.
            “bodoh” jawabku sinis.
            “apa? Apa kau bilang?” ia sangat terkejut dengan jawabanku.
aku menjulurkan lidah dan segera berbalik arah.
merasa menang karena sudah membuatnya terkejut seperti itu.
dari kejauhan, samar-samar ku dengar ia memaki.
            “kalau kau merasa pintar. Ku tantang kau dalam lomba juara kimia bulan depan!”
***
            “apa yang kau lakukan?” Tanya riren tiba-tiba ketika kami sedang mengerjakan tugas matematika didalam kelas.
            “apa? Lakukan apa?” tanyaku bingung.
riren kesal dan refleks menepuk keningnya.
            “Tim. Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?
              ia tampak begitu marah dikantin tadi, dan ia mengatakan bahwa..
              bahwa kau menantangnya untuk mengikuti lomba kimia bulan depan!
              oh del, apa kau sudah gila?!”
aku meletakkan penaku.
            “apa?” kataku. Memastikan bahwa riren sedang tidak bergurau.
            “apa? Apanya yang apa?” riren tampak kesal.
            “ok..ok.. aku mengerti.
              tapi kau harus tahu bahwa ia yang menantangku untuk mengikuti lomba itu” terangku.
riren menyipitkan matanya tampak tak mengerti.
            “oh gosh! Pagi ini aku pergi ke perpustakaan sains untuk meminjam beberapa buku
              biologi. Kau tahu kan kalau aku sangat membutuhkan buku-buku itu untuk memperbaiki
              nilai biologiku.
              setelah berhasil mendapatkan beberapa judul yang kucari. Aku pergi berjalan-jalan
              sebentar untuk melihat buku-buku yang lainnya.
              ketika melewati rak buku-buku kimia, mataku menangkap sebuah lemari penuh laci
              bewarna cokelat tua. Aku mendekati lemari itu dan membaca beberapa nama disana.
              ketika mataku sampai pada nama ‘Tim John’ rasa ingin tahuku pun membuncah.
              well, aku ingin tahu apa yang ia simpan didalam sana. Mungkin saja ia menyimpan
              rahasianya sebagai juara kimia 16 kali” terangku memasang wajah tak bersalah pada riren.
“del, apa maksudmu kau memeriksa lemari laci siswa-siswi berprestasi itu..
  kau..
  kau menggeledah laci Tim John!” riren terbelalak.
Aku mengangguk sembari tersenyum jahat dan kemudian berkata,
            “ia selalu menyombongkan kemampuan kimianya itu. Aku membencinya”
mendengar penuturanku, masih dalam keterkejutannya. Riren akhirnya kehabisan kata-kata.
***
1 bulan kemudian..
dalam lomba juara kimia.
            “kau yakin bisa mengalahkan juara 16 kali berturut-turut itu, del?” Tanya riren pesimis.
            “sebenarnya aku tak ingin menang. Aku hanya ingin mempermalukannya” jawabku.
Riren lagi-lagi menepuk keningnya dan bergumam,
            “kau gila, del”
Beberapa saat kemudian perlombaan pun dimulai.
Dan yah.. sepertinya usahaku 1 bulan sebelumnya benar-benar tidak mengecewakan.
Karena cukup mudah bagiku untuk mengerjakan soal-soal yang mengerikan ini.
100 menit akhirnya berlalu. 50 peserta termasuk aku dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan oleh para juri.
Baru saja aku hendak keluar melewati pintu, riren sudah tampak berlarian kearahku.
Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang gugup.
Setelah menunggu selama 2 jam diselingi dengan pentas seni yang ditampilkan oleh adik-adik kelasku. Pengumuman pemenang lomba akhirnya tiba.
Riren menutup telinga dengan kedua telapak tangannya.
            “aku tak siap menerima kekalahanmu” katanya sungguh-sungguh.
Aku menyimak dengan mantap.
Dan kejutan pun datang.
Juara ketiga diraih oleh Glen yang tahun lalu menempati juara kedua dalam perlombaan ini.
Dan..
Coba tebak siapa yang meraih juara kedua?!
Tim!
yak betul. “TIM JOHN!”
Aku bersorak ketika namanya disebut sebagai pemenang juara kedua.
Membuat semua orang yang ada disana menatap kearahku.
Bahkan sang MC pun menatap tak mengerti kearahku.
Kemudian, coba tebak siapa sang juara pertama?
“DELLA TAMA!!!”
Dan “yeesssss!!!” aku kembali bersorak.
Riren terkejut dan sama sekali tak menduganya.
Aku, Tim si bodoh, dan Glen dipersilahkan naik keatas panggung
Kau tahu? Menyenagkan sekali berdiri di undakan yang lebih tinggi dari si sombong Tim.
Dan piala ini..
Sungguh besar, berat, dan berkilau!
Ketika menuruni panggung, riren datang menghampiri dan dengan senangnya berkata,
            “Gosh! Kau sungguh berbakat dalam belajar, del!
              mengapa tidak dari awal kau tunjukkan kemampuanmu itu, hah?
              1 bulan belajar keras dank au sudah mampu mengalahkan Tim sang juara kimia!”
Aku tertawa mendengar riren yang begitu terharu dan bersemangat.
***
2 bulan kemudian..
Terjadi sesuatu yang ganjil. Setelah perlombaan juara kimia itu usai. Sepertinya Kim John menyukaiku. Ia jatuh cinta padaku.
Aku bergidik ngeri.
Setiap harinya, ia selalu mengirimkan aku surat beramplop merah muda yang berisikan puisi panjang ala pujangga.
Hingga disuatu sore yang melelahkan.
Setelah ujian matematika usai.
Tim datang menghampiriku didepan perpustakaan sains.
            “em del, bisakah kita bicara sebentar.
              ada yang ingin kukatakan” Tim tampak gugup.
Dengan cepat aku menjawab.
            “maaf Tim. Ini suda sore. Aku harus pulang”
Tim menghalangiku melangkah pergi. Dan dengan cepat ia mengungkapkan isi hatinya padaku.
            “del, aku menyukaimu” katanya dengan lembut.
Aku terdiam sesaat dan kemudian membalas.
            “kenapa? Karena sekarang aku adalah juara kimia yang popular?” tanyaku tajam.
            “ti..tidak del.
              bukan begitu..” Tim menelan ludah dan tampak makin gugup.
            “oh Tim, kau harus tahu 1 hal.
              tidak selamanya rasa benci harus berakhir dengan cinta.
              dan begitu pula sebaliknya” terangku.
Aku segera saja beranjak pergi.
Meninggalkan Tim yang tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

Tamat_








        



                                                                                                    

Kamis, 27 Maret 2014


Based on my own true story :v

Hanya 17 orang!
                                  
       Bingung. Aku sangat bingung harus melakukan apa. Sebagai ketua dari ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja) di sekolah. Tidak banyak yang sudah aku capai. Mulai dari pembuatan apotik hidup yang hanya bertahan 1 bulan, gagalnya pambuatan pupuk kompos dari daun, dan juga semakin berkurangnya para anggota dari minggu ke minggu.
Aku bingung. Resah dan mungkin galau.
Aku menemukan titik terang yang mungkin bisa menjadi senjata yang ampuh untuk menarik kembali para anggota yang sudah tidak berambisi lagi dengan ekstrakurikuler KIR, ketika salah seorang anggota berpendapat, “dew, gimana kalo kita ngadaain acara seminar motivasi gitu..”
“seminar motivasi?” aku menanggapi.
“iya.. siapa tau itu bisa jadi jalan supaya anggota kita balik lagi” terangnya.
“wahh, boleh tuh! Kenapa ga dari dulu kasih ide yang beginian, mel” jawabku.
“hehe.. iya juga ya” meli tersipu.
Dan akhirnya aku, meli dan anggota lain yang masih tersisa pun mulai menyibukkan diri dengan berbagai kesibukan yang berkaitan dengan pengadaan seminar motivasi tersebut.
Kami sepakat akan menamakan seminar ini “one step closer to the kir”.
Lelah, penat, dan pusing dengan segala urusan mengenai proposal, brosur kir, perserta seminar, pemateri, dan snack.
Akhirnya segala persiapan pun selesai.
“huh.. akhirnya rebes juga” dodi berkata sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.
Namun, sayang seribu kali sayang.
Acara seminar kami pun harus di tunda. Karena tanpa sepengetahuan kami, ternyata ekstrakurikuler Rohis pun mengadakan acara dengan hari, tempat dan waktu yang sama dengan kami.
Aku tidak bisa berbuat apapun kecuali mengeluh.
Semua orang juga sudah tahu kalau ekstrakurikuler Rohis jauh lebih, lebih dan lebih di bandingkan dengan KIR.
Dan ironisnya, hampir dari sebagian anggota KIR adalah anggota Rohis juga.
Jadi sudah pasti mereka akan lebih memilih Rohis daripada KIR..
            Seminggu kemudian, jadwal seminar motivasi KIR akhirnya dapat di laksanakan. Tanpa hambatan, tanpa hujan, dan tanpa angin topan.
Pagi itu, aku terbangun dengan suasana hati yang resah dan kepala yang di penuhi dengan berbagai pertanyaan seperti misalnya, “bagaimana jika yang datang hanya sedikit?”, “bagaimana jika aku tidak baik saat memberikan sambutan?” dan lain sebagainya.
Aku merasa gugup. Sebenarnya sudah dari semalam aku merasa gugup.
Entahlah, padahal aku sudah cukup terbiasa bicara di hadapan banyak orang.
            Acara seminar akan di mulai pada pukul 09.00, tapi aku sudah sibuk sejak pukul 6 pagi.
Setelah menjemput dan memaksa fika untuk ikut berpartisipasi dalam seminar ini. Yang sebenarnya dia bukanlah anggota KIR.
Aku (bersama dengan fika), akhirnya sampai di sekolah sekitar pukul 7 pagi.
Dan aku terkejut karena..
Sekolah masih begitu lengang. Sepi. Gerbang sekolah pun masih tertutup rapat.
Aku mencoba memanggil-manggil pak baim (penjaga sekolah) untuk segera membukakan pintu gerbang.
Tapi sayang, sepertinya ia masih sibuk berkutat dengan selimut dan bantal gulingnya.
Setelah sekian lama mencoba memanggil-manggil pak baim, dan ia tidak kunjung datang.
Aku mulai mencari cara lain.
“kalo kita manjat gerbang aja gimana?” aku melirik fika.
“hah? Ga mau ah. Bisa berabe kalo jatoh..” jawab fika yang tidak setuju dengan ide brilianku.
Aku sudah mulai putus asa ketika akhirnya pak baim datang dengan muka kusut, mata mengantuk, dan rambut berantakannya.
Tanpa basa-basi lagi, ia langsung membukakan pintu gerbang dan membiarkan kami masuk.
“pak baim abis begadang nonton sinetron ya..?” tanyaku iseng seraya meledeknya.
Sekitar pukul 9, para anggota yang lain mulai berdatangan.
“dew, kok masih sepi?” Tanya adit.
“iya, dew. Kok masih sepi?” mona ikut bertanya.
“sabar.. mungkin mereka masih di jalan..” jawabku sok bijak.
Padahal, jika saja mereka tahu bahwa mungkin aku adalah satu-satunya orang yang paling khawatir saat ini. Jika saja mereka tahu bahwa aku sangat khawatir jika anggota yang hadir hanya sedikit.
“oh tidak..” ujar batinku.
Pemateri sudah datang ketika waktu menunjukkan pukul 10 pagi.
Dan ternyata..
Hanya 17 orang anggota yang hadir.
Benar.
Hanya 17 orang!
            Akhirnya kami memaksakan diri untuk segera memulai acara.
“assalammualaikum wr.wb. selamat pagi semuanya. Puji syukur kehadirat Allah swt…” dina sang MC memulai acara.
Acara kemudian di lanjutkan dengan sambutan dari Pembina ekstrakurikuler KIR.
Terlihat beberapa siswa yang menguap.
Akhirnya sambutan pun selesai.
“sekarang tibalah ketua KIR kita, Dewi purnama sari yang akan memberika sambutannya..” ucap dina sambil memberiku isyarat untuk segera memberi sambutan.
Aku melangkah maju ke depan. Gugup. Dan kemudian mulai memberikan sambutan.
Sial, di tengah-tengah sambutan, aku lupa kalimat yang harus aku ucapkan berikutnya. Aku berpikir cepat. Secepat kucingku menyambut makanannya saat ia sedang kelaparan.
Aku mengarang.
Setelah kurasa cukup. Dan setelah ku lihat para anggota yang lain lagi-lagi menguap.
Aku pun akhirnya mengakhiri sambutanku.
            Kini tibalah saat acara inti, “seminar motivasi”. Semua anggota (yang hanya 17 orang) memberikan tepuk tangan kepada pemateri “kak imam” yang segera maju ke depan.
Kak imam masih seorang mahasiswa. Tapi ia sudah mahir menjadi pemateri dalam seminar-seminar.
Ia terlihat berwibawa, bijaksana dan manis.
Manis?
Intinya, dia terlihat seperti tipe orang yang bisa menyenangkan hati orang lain. Tipe yang mampu mencairkan suasana yang dingin.
Dan itu semua terbukti saat ia memulai aksinya. Aksi memberi kami motivasi dengan cara yang santai dan menyenangkan.
Kemudian acara pun tiba di sesi game, salah seorang teman kami yang bernama yusna berhasil di hipnotis oleh kak imam.
Yusna di berikan sugesti seolah ia adalah kak imam.
Maka ruangan pun penuh dengan suara tawa yang membahana ketika melihat tingkah lucu yusna yang mengira dirinya adalah kak imam.
Kemudian setelah kak imam kembali memberikan sugesti pada yusna bahwa ia bukanlah kak imam. Dan setelah yusna kebingungan bertanya pada yang lain “apa sebenarnya yang telah terjadi?”.
Acara pun di mulai dengan renungan.
Semua anggota menangis haru. Kak imam benar-benar telah berhasil membuat seluruh ruangan tampak mengharu biru.
Padalah beberapa menit yang lalu suara tawalah yang memenuhi ruangan.
Setelah semua anggota membuka mata dan mampu menguasai rasa sedih.
Acara selanjutnya adalah menyantap snack yang sedah di sediakan.
ada 60 snack.
Ya, 60!
Kami memperkirakan ada sekitar 60 orang yang akan datang. Tapi ternyata separuh dari 60 pun tidak.
Akhirnya masing-masing anggota menerima 2 snack. Itu pun masih cukup banyak snack yang tersisa.
60..
Ternyata hanya 17..
Acara pun di tutup dengan do’a.
Dan setelah itu kami semua pulang.
Di perjalanan pulang, aku hanya terdiam. Dan setelah mengantarkan fika pulang. Aku banyak berpikir. Berpikir tentang apa yang salah? Bertanya pada diri sendiri “ada apa?”.
Ahh entahlah..
Aku hanya bisa mengambil satu kesimpulan.
Mungkin aku..
Aku adalah ketua yang buruk.
60..
Ternyata hanya 17..



Rabu, 26 Maret 2014

i wrote this storytale this morning.. happy read! :")

‘Ada Saatnya’

Emil si bayi beruang yang baru berusia 6 bulan mogok makan karena ingin ikut ayahnya pak beruang memancing ikan di kolam full-fish.
“Aku tak mau makan, bu.
 aku ingin pergi memancing bersama, ayah” rajuknya.
“Nak, tapi kau masih terlalu muda untuk pergi memancing.
 ibu tak mau terjadi sesuatu padamu disana” jawab ibu beruang dengan sabar.
Emil si bayi beruang hanya cemberut menanggapi perkataan ibunya.
Tiba-tiba ayah beruang datang dengan membawa 4 ekor ikan besar yang masih segar untuk makan malam mereka bertiga.
Melihat emil yang cemberut tak seperti biasanya.
Ayah bertanya “ada apa, emil? Mengapa cemberut begitu?”
“Ayah, ijinkan aku pergi memancing bersama ayah” rajuk emil pada ayahnya.
Ibu hanya tersenyum dan kemudian membawa ikan-ikan hasil memancing ayah ke dapur.
“Emil, kau masih terlalu muda untuk ikut bersama ayah” ujar ayah lembut.
Emil hanya diam sembari memainkan kaki kirinya.
Melihat hal itu, ayah menghela nafas.
“Emil, kau anak yang baik. Suatu hari nanti kau akan menjadi beruang yang kuat dan
 menggantikan ayah” terang ayah.
Emil menatap ayah takjub lantas berkata “benarkah itu, yah?”
“tentu saja” ayah tertawa.
“karena itu, berhentilah cemberut, makanlah yang banyak, tertawa, dan banyaklah
 belajar. Akan tiba saatnya kau akan kebosanan pada rutinitas memancing” lanjut ayah
 kembali tertawa.
“Baiklah, ayah” jawab emil tersenyum lebar sampai gigi-gigi mungilnya terlihat.


Senin, 24 Maret 2014

well, it's my other short story

A SHINING STAR
                                                       

“Kita harus berpisah”..
Kata-kata itu terus terngiang ditelinga david.
Bagai bom yang memecahkan gendang telinganya. David hanya diam tanpa bisa berkata-kata.
***
Sakit. Sakit sekali rasanya kala itu.
David menghela nafas.
Ia tahu. Ia harus segera melupakan bintang. Gadis cantik yang telah mengisi hari-harnya selama satu tahun.
David tertunduk, meremas rambutnya, dan kemudian bangkit dari meja belajarnya.
            “aku butuh udara segar” ujarnya dalam hati.
David segera mengunci pintu rumahnya, dan berjalan..
Berjalan kemanapun kakinya hendak mengajaknya.
Disini di London, tentu saja sangat berbeda dengan di Jakarta. David bisa berjalan santai tanpa harus khawatir ada kendaraan yang akan menabraknya dari arah samping atau belakang.
Setelah berjalan cukup lama.
David memutuskan untuk berhenti. Kakinya telah membawanya ke sebuah taman kota.
David terduduk di sebuah bangku panjang. Berpikir tentang banyak hal. Ia masih sulit mempercayai bagaimana ia bisa sampai disini, di London.
Pikirannya mengembara dan kemudian berhenti pada ingatan beberapa tahun yang lalu.
Bintang, dengan wajah ceria dan suara renyahnya pernah berkata padanya. “suatu hari nanti, aku ingin pergi ke London. Berjalan-jalan di sekitar taman kota, memotret, bersepeda dan melakukan banyak hal menyenangkan lainnya”.
David menatap mata bintang lekat. Mata mereka bertemu. Jantung david seakan berhenti berdetak. Ia masih tidak mengerti bagaimana gadis ini selalu membuatnya tidak bisa berkutik setiap kali menatap matanya.
”excuse me.. may I sit beside you?” suara seorang gadis membuyarkan lamunan david tentang bintang.
David hanya tersenyum sebagai jawaban bahwa ia sama sekali tidak keberatan gadis itu duduk di sampingnya.
Beberapa detik kemudian..
            “Hi, I’m Jessica” gadis itu memperkenalkan diri.
            “I’m david” balas davis seraya menyambut uluran tangan Jessica.
Jessica gadis yang periang, bermata cokelat, dan sepertinya gadis keturunan inggris asli.
Ia begitu cerewet, dan hanya dalam waktu beberapa menit saja, ia sudah bisa akrab dengan david.
            “umm, jes, I’m sorry. I have to go” tiba-tiba david teringat sesuatu.
“oh.. why so soon?” Jessica mengeluh.
“there’s something I have to do now. Good bye, jes” ujar david.
“uhh, good bye david” Jessica menjawab.
David segera berlari pulang.
Ia tidak menyangka akan mengingatnya lagi. David memaki dirinya sendiri.
“oh.. why I’m so stupid!”..
Ketika sudah sampai dirumah. David segera membuka pintu dan berlari kedalam.
Ia masuk kedalam kamarnya dan membongkar seluruh isi kamar. Mencari-cari benda yang sejak di taman kota tadi sudah memenuhi isi kepalanya.
David mendongak kedalam lemari pakaiannya, mengacak-acaknya dan ketika ia sudah sampai pada bagian atas, ia tertegun.
Akhirnya ia menemukannya.
Ia menemukan gelang bintang itu.
Gelang yang sudah di simpannya selama 3 tahun. Gelang yang menyimpan berjuta kenangan.
Kenangan ia dan bintang..
Dan kenangan itu telah membawanya kembali pada masa-masa SMAnya..
“Duk!”
“lihat-lihat dong!” gadis itu tampak kesal. Ia terjatuh dan kertas yang dibawanya berserakan.
“loh! Salahmu sendiri membawa kertas bertumpuk-tumpuk menutupi wajahmu! Sampai-sampai kau tidak melihat ada orang di depanmu! Maen tabrak saja!” jawab david segera bangkit.
“heh! Kau kan tahu aku sedang membawa tumpukan kertas! Kenapa masih juga kau tabrak! Hah?!” gadis itu semakin kesal.
Dan ia hampir meledak melihat david berlalu begitu saja tanpa membantunya berdiri atau membereskan kertas-kertas miliknya yang berserakan.
            “Dasar kau orang bodoh!” gadis itu mengumpat dan segera membereskan kertas-kertasnya.
Sepertinya tuhan memang sudah merencanakan pertemuan demi pertemuan yang terjadi dalam hidup manusia dengan sangat rapi dan penuh kejutan.
Karena keesokan harinya, david dan gadis itu bertemu lagi.
            “pagi semua..” miss ervina yang cantik dan langsing memasuki ruang kelas XIIA5.
            “hari ini kalian akan di ajar oleh seorang guru yang usianya sama dengan kalian” lanjut miss ervina.
Seisi kelas tampak bingung.
            “dia sedang melakukan riset mengenai sistem pengajaran di sekolah. Dan risetnya ini akan di ikut sertakan dalam perlombaan nasional” miss ervina menjelaskan.
Hening.
            “baiklah, ini dia guru baru kalian. Bintang dari kelas XIIA4..” seru miss ervina.
Dan seorang gadis pun memasuki ruang kelas. Cantik, bertubuh mungil, dan terlihat pintar.
David tercengang menatap gadis itu.
Dia..
Dia gadis yang menabraknya kemarin.
Atau lebih tepatnya, gadis yang di tabraknya.
Bintang segera menatap seluruh isi kelas. Menatap satu demi satu wajah.
Kemudian, sosok david pun tertangkap olehnya. Bintang terbelalak sejenak. Dan kemudian mengalihkan perhatiannya pada siswa lain.
David menelan ludah.
            “bintang, kamu sudah bisa mengajar mulai hari ini. Selamat mengajar ya..” ucap miss ervina dengan senyum yang mengembang.
            “terima kasih, miss” jawab bintang.
Miss ervina meninggalkan kelas dan bintang segera duduk di kursi guru.
Ia mulai mengabsen.
Sejak hari itu, rasa kesal di hati david sudah hilang entah kemana.
Ia terus memperhatikan bintang. Cara ia bicara, cara ia berjalan, cara ia menerangkan mata pelajaran yang paling di benci david “bahasa inggris”.
David seolah melihat malaikat.
Dan hari itu juga, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati david.
2 minggu setelah bintang mengajar di kelas XIIA5.
Keanehan mulai terjadi.
Kursi guru tempat bintang duduk sering hilang entah kemana, meja guru di penuhi tinta spidol, dan selalu ada permen karet yang menempel di balik penghapus.
Akhirnya bintang menyadari, ada seseorang yang tidak menyukainya di kelas ini.
Maka ketika untuk yang kesekian kalinya bintang menemukan mejanya dipenuhi dengan tinta.
Bintang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Seperti sebuah bom atom. Saat itu juga ia meledak.
Ia menghampiri seseorang yang sudah lama ia tuduh sebagai tersangka dari semua kegilaan ini.
Seketika ia menggebrak meja david dan dengan air mata yang berlinang.
Ia berteriak.
            “aku tahu ini semua ulahmu!
              Apa kau menganggap aku bodoh?!
              Apa kau masih menyimpan rasa dendam padaku karena kejadian waktu itu?!!..
              Kau….”
Bintang terisak.
            “Bodoh!” lanjutnya.
Dan ia segera meninggalkan ruang kelas.
Seisi kelas menatap kearah david.
Wajah david berubah menjadi pucat. Seketika ia menjadi bisu dan tuli.
Tiga hari kemudian, bintang kembali mengajar di kelas XIIA5.
Ia selalu mengalihkan perhatian setiap kali matanya bertemu dengan mata david.
Merasa dikucilkan seolah ia adalah tersangka pembunuhan kelas berat.
David akhirnya berdiri dari kursinya dan berteriak lantang.
            “Bukan aku yang melakukannya!”
bintang segera berhenti menulis dan seluruh siswa menatap tajam kearah david.
            “aku berani bersumpah bukan akau yang melakukannya!
              Aku tidak tahu siapa yang melakukannya..
              Tapi yang pasti bukan aku.
              Aku tidak menganggapmu bodoh.
              Kau adalah gadis paling pintar yang pernah aku temui”
Wajah bintang memerah.
            “aku tidakdendam padamu atas kejadian beberapa waktu yang lalu.
              Aku..
              Aku menyukaimu!”
Seisi kelas tercengang. Seruan-seruan mulai terdengar.
Sementara itu, bintang membeku. Terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan david.
Ia tidak tahu harus melakukan apa.
“kau.. bodoh!” ucapnya pada david.
Dan ia segera pergi meninggalkan kelas.
Setelah kejadian itu, setiap kali bintang memasuki ruang kelas XIIA5 untuk mengajar.
Selalu ada sekuntum mawar putih yang tergeletak di mejanya.
2 bulan berlalu. Dan batas waktu mengajar untuk bintang akhirnya tiba.
            “hari ini adalah hari terakhir aku mngajar di kelas ini. Terima kasih atas kerja sama kalian.
              Aku senang kalian tidak menganggapku sebagai guru, melainkan sebagai teman.
              Dan david, terima kasih untuk mawar-mawarmu”
Bintang meninggalkan kelas dan seisi kelas mulai ribut menggoda david.
Saat itu david tahu, ia punya kesempatan untuk lebih dekat dengan bintang.
            Segala kebodohan yang dilakukan oleh david untuk membuat bintang memperhatikannya, pada akhirnya berhasil membuat hati bintang luluh.
Bagaimana tidak, david selalu membawakan makan siang untuk bintang setiap kali bel istirahat bordering, membawakan bintang mawar dan cokelat setiap pagi, dan mengirim surat cinta 2 hari sekali.
Hingga pada suatu siang sepulang sekolah.
David memutuskan untuk segera menyatakan cintanya pada bintang.
Bel pulang akhirnya berdering.
Secepat kilat david keluar dari ruang kelas dan pergi mencari bintang. Untunglah dewi fortuna masih berpihak padanya.
Ia melihat bintang sudah berjalan menuju gerbang sekolah.
            “bintang, Tunggu aku..” teriak david seraya berlari menghampiri bintang.
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, bintang segera berhenti dan mencari sumber suara.
“david, ada apa?” Tanya bintang.
“um..um..aku..aku..” david tergagap.
“ya?” bintang menanggapi.
“um, bisakah kita bicara di taman sekolah saja.
  disini terlalu ramai dan bising” terang david.
            “hmm, baiklah” bintang menanggapi.
Dan mereka pun berjalan beriringan menuju taman sekolah.
Ketika sudah tiba di taman sekolah, david segera mengungkapkan perasaannya.
            “you’re a shining star. And I want you to be a shining star in my heart, my days,
            and my life”.
Bintang terkejut, dia membisu dan kemudian tawanya meledak.
Kening david berkerut. Dia kemudian berkata “bintang kau…”
            “um maaf, aku.. aku hanya terkejut david!
            Bahasa inggrismu, sudah jauh lebih baik!
            Kau .. kau penuh dengan kejutan” ucap bintang.
            “bintang aku..”
mata mereka bertemu.
Sambil tersenyum, bintang berkata lembut,
            “you’re a good person david.
            Funny and..
            So romantic.
            If you want me to be a shining star in your heart. I’ll be what you want”.
David tersenyum.
Perasaannya seolah meledak-ledak,
            “david! Kau mengerti maksudku?”
David tersenyum nakal.
“Kau masih meragukan kemampuan bahasa inggrisku?”.
            “tidak” bintang menggeleng dan kemudian tergelak.
            “baiklah. Boleh aku mengantarmu pulang?” Tanya david.
            “tentu” bintang menjawab.

Setelah hari itu, mereka selalu bersama-sama.
Saling berbagi cerita, keluh kesah, dan banyak hal lainnya.
1 tahun berlalu dengan begitu cepat.
Dan ketika ujian akhir berlalu. Bintang dilanda musibah besar yang mengguncang batinnya begitu dahsyat.
Ayahnya meninggal akibat kecelakaan mobil. Karena begitu sedih dengan kejadian tersebut. Ibunya terserang stroke secara tiba-tiba.
Dan beberapa hari setelah itu, kakak laki-laki semata wayangnya terlibat kasus narkoba.
Dan sekarang, keluarganya jatuh miskin.
Dengan segala musibah yang menimpanya itu, bintang berusaha untuk tetap tegar. Sebisa mungkin ia menutupi keadaan keluarganya ini dari david.
Dan ketika malam pesta kelulusan SMA mereka. Bintang tidak hadir karena harus mengurus ibunya di rumah,
            “kau dimana? Kenapa belum datang?”.
David akirnya memutuskan untuk menghubungi ponsel bintang.
            “um..aku..ada sesuatu hal. Jadi aku tidak bisa datang, david” bintang menjawab.
            “ada apa? Apa yang terjadi?” david terus bertanya.
“aku..pamanku mengalami kecelakaan mobil dan aku sedang ada di rumah sakit sekarang” bintang berbohong.
            “apa? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kau ada di rumah sakit mana?
            Aku akan pergi kesana sekarang juga!” david mulai panik.
            “tidak david! Kau tidak mengerti. Aku..”
Seketika bintang mematikan ponselnya.
            “halo? Bintang? Kau masih disana? Halo?!” david tampak kesal.
Dalam kekesalannya, tiba-tiba david melihat risma, sahabat karib bintang sedang mengobrol bersama teman-teman yang lain.
David segera memanggil risma.
            “ris, risma..” david berlari menghampiri risma.
            “sebenarnya ada apa dengan bintang?” Tanya david.
            “apa?” risma terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh david.
            “kau pasti tahu sesuatu. Akhir-akhir ini ia tampak aneh. Selalu sibuk dan..
            Ada apa sebenarnya?” david terus mendesak.
Risma hanya diam. Menatap david sejenak dan kemudian berkata,
            “maaf david, aku mau ke toilet”.
Semuanya tampak begitu membingungkan bagi david.
Sudah 3 hari sejak pesta kelulusan itu ia tidak mendengar  kabar apapun dari bintang.
Nomor ponsel bintang pun tidak bisa dihubungi.
Dihari keempat. Akhirnya david memutuskan untuk berkunjung kerumah bintang.
Ia khawatir terjadi sasuatu hal yang buruk padanya.
Namun ketika motor kawasakinya sudah sampai disebuah rumah yang di tuju.
David terkejut.
Ada sebuah papan bertuliskan “Rumah Ini Dijual” tepat dipintu gerbang rumah bintang.
***
David berjalan lung;ai kedalam rumahnya, meletakkan helm, dan melempar kuncinya.
Ia terduduk disofa dan meremas rambutnya.
Ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.
Dijual?
Ada apa?
Kepalanya pusing, sekelilingnya seolah berputar.
David memutuskan untuk masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya disana.
Beberapa detik kemudian, david pun tertidur. Dan tengah malam, saat ponselnya berdering.
David akhirnya terjaga dari tidurnya. Ada sebuah pesan masuk.
David membuka sedikit matanya, dan membaca pesan tersebut.
            “kita bertemu jam 3 tepat danau besok
                                                            Bintang”
Mata david terbelalak membaca nama yang tertera dibagian bawah pesan tersebut.
“bintang”.
Berkali-kali ia membaca pesan tersebut. Seolah takut ada kata yang tidak terbaca olehnya.
Danau?
Ada apa?
***
Keesokan harinya, ketika waktu baru saja menunjukkan pukul 1 siang. David sudah sampai ditempat yang dimaksud oleh bintang.
“danau”.
Selama 2 jam ia menunggu seraya berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
Dan saat waktu menunjukkan pukul 3 tepat.
Ada seseorang yang memanggil david.
“david..”
David menoleh mencari sumber suara.
“david, kau datang” suara itu bergetar.
David kembali menoleh dan menemukan bintang sedang berdiri tidak jauh darinya.
            “bintang, kemana saja kau? Ada apa? Apa kau baik-baik saja? Ada apa dengan
            Rumahmu? Kenapa wajahmu terlihat begitu pucat? Bintang?!”
Berjuta pertanyaan david membuat air mata bintang jatuh membasahi pipinya.
            “david, kita harus berpisah” ucap bintang dengan suara bergetar.
            “apa? Kenapa?”  david terperanjat.
            “kita harus berpisah” bintang mengulangi kata-katanya.
Air mata semakin deras membanjiri pipinya.
            “bintang? Aku tidak mengerti?!” pernyataan bintang nyaris membuat david gila.
            “suatu saat kau akan mengerti. Kita harus berpisah” bintang kembali mengulangi kata-katanya.
Bintang menatap mata david sejenak dan kemudian pergi.
Ketika punggung bintang sudah tak terlihat lagi. David jatuh berlutut.
Matanya nanar. Hatinya begitu terluka.
Bagaimana mungkin, bintang..
Semudah itukah..??
David mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri.
Ia hendak naik keatas motornya ketika matanya tertuju pada  sebuah benda yang tergeletak diatas tanah.
David memperhatikan benda itu dan mengambilnya.
Ternyata sebuah gelang. Sebuah gelang dengan bentuk bintang di tengahnya.
 Ia sangat mengenal itu.
Itu gelang milik bintang!
***
2 bulan setelah kejadian tak terduga didanau itu.
David pergi ke London untuk melanjutkan studinya. Didalam perjalanan menuju London. David terus menggenggam gelang berbentuk bintang itu.
Sesampainya di London, david memutuskan untuk menempati rumah kosong yang dulunya adalah runah milik kakek dan neneknya.
Ia segera membereskan barang-barangnya. Dan meletakkan gelang berbentuk bintang itu didalam lemari pakaiannya.
***
Gelang itu terus tersimpan didalam lemari hingga hari ini.
Untuk yang kesekian kalinya, david menghela nafas.
Ingatan tentang bintang membuat luka dihatinya kembali terasa sakit. David menggenggam erat gelang berbentuk bintang itu, dan membuangnya ke keranjang sampah.
Beberapa hari kemudian saat david sedang duduk ditaman kota. Ia kembali bertemu dengan Jessica, gadis keturunan inggris asli yang periang.
Begitu terkejutnya david ketika mengetahui bahwa Jessica belajar dikampus yang sama dengannya.
            “why I never saw you?” Jessica protes.
            “I don’t know. I think it happened because our collage is too big..”
Mereka berdua tertawa.
David suka mengobrol dengan Jessica karena ia begitu mirip dengan bintang.
***
Disuatu sore yang dingin. Kejutan kembali hadir dalam kehidupan david. Seseorang memanggilnya saat ia sedang tergesa-gesa menuju rumahnya.
            “david..”
David menoleh kearah datangnya suara dan begitu terkejut.
            “risma..”
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol dikedai kopi tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi.
            “apa yang kau lakukan disini, ris?” Tanya david.
            “jalan-jalan dan.. mengunjungi seseorang” risma menjawab.
            “seseorang? Kau punya keluarga disini?” Tanya david lagi.
            “tidak.. aku datang kemari untuk mengunjungi sahabatku bintang..” terang risma.
Seketika david tersedak.
            “ap..a? mengunjungi siapa?!” david terbelalak.
            “bintang..” tegas risma.
David menghela nafas dan terdiam.
            “kau bodoh david. Bodoh sekali..” risma memecah keheningan.
            “aku? Kenapa?” Tanya david dengan ekspresi wajah yang menyiratkan kebingungan.
            “apa kau tahu alasan mengapa bintang pergi menjauhimu?” Tanya risma.
            “tidak” tegas david.
            “karena itulah aku menyebut kau bodoh” lanjut risma.
Suasana hening.
            “ia sedang ditimpa banyak masalah saat itu. ia tidak mau kau terlibat didalamnya.
            Karena itulah ia memutuskan untuk menjauh darimu” terang risma.
            “ap..a?” david tergagap.
            “ayahnya meninggal akibat kecelakaan mobil, tiba-tiba ibunya terserang stroke,
            Kakak laki-lakinya tersandung kasus narkoba, dan keluarganya jatuh miskin.
            Ia merahasiakan ini darimu. Ia menyimpan semuanya sendiri. Ia begitu kuat.
            Ia memang seorang bintang yang dipenuhi oleh cahaya” risma mengakhiri ceritanya.
            “kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Dipesta kelulusan itu, kau bahkan
            Tidak mau menjawab pertanyaanku?!” emosi david meluap-luap.
Risma diam sejenak. Menunggu david agak sedikit tenang, dan kemudian menjawab,
            “waktu itu aku tidak bisa david. Bintang melarangku untuk memberitahumu.
            Ia amat menyayangimu”.
Kalimat terakhir yang terlontar dari mulut risma membuat jantung david berdetak begitu cepat.
            “apa dia ada di London saat ini?” Tanya david serak.
            “apa?” risma tidak begitu mendengar apa yang baru saja ditanyakan david.
            “apa dia ada disini sekarang?” ulang david.
            “ap? Oh..maksudmu bintang. Tentu saja. Ia sedang melanjutkan studinya. Kau pasti
            Sudah tahu kalau London adalah kota impiannya” risma menjawab.
Suasana hening.
            “dan kau.. apa yang kau lakukan di London?” risma memecah kesunyian.
            “aku.. melanjutkan studiku” jawab david singkat.
Kini giliran risma yang tersedak.
            “kau.. dan bintang. Bagaimana mungkin kalian? Ya ampun” katanya dengan ekspresi seperti orang bodoh.
David tersenyum dan kemudian menjawab,  
“mungkin inilah saatnya takdir mempertemukan kami lagi”.
“jangan terlalu yakin” goda risma.
“memangnya kenapa?” Tanya david cepat.
“ia sedang dekat dengan pria asli inggris sekarang. Ketika pertama kali bertemu,
Mereka sedang sama-sama patah hati” risma terkekeh.
“risma! Bagaimana kau…!” david mulai meledak.
Risma tergelak.
            “baiklah, aku rasa kalian berdua harus segera bertemu. Ya, sebelum semuanya
            terlambat” ujar risma.
David melotot mendengar kalimat terakhir risma.
            “baik baik, aku berharap semua akan baik-baik saja, jam berapa ini? Oh, david aku harus
            Pergi sekarang. Bye..” risma bergegas pergi meninggalkan kedai itu.
***
Perkataan david benar. Karena pada minggu pagi. Takdir memang mempertemukan ia dan bintang lagi. Tapi, tentu saja dengan kejutan yang benar-benar mengejutkan.
            Pagi itu, semua orang sedang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru untuk nanti malam.
Jalanan kota London begitu ramai dilalui orang-orang yang sibuk berbelanja.
            “come on, dav. Do you want accompany me to buy some fishes?” ajak Jessica seraya menarik-narik lengan david.
            “what? Fish? For what? Will you throw it on the sky? You need fireworks, jes. Not fish!” david mencoba berargumen.
            “oh, come on, dav. It doesn’t funny!” Jessica terus menyeret david.
Saat itulah takdir tiba dengan begitu mengejutkan.
            “duk!”
Seseorang menabrak Jessica dan membuatnya terjatuh.
            “oh, damn!” umpat Jessica.
            “I’m sorry. Are you ok?” seorang pria inggris mencoba membangunkan Jessica.
            “what! Whether you…?!” Jessica menghentikan kalimatnya.
Ia diam mematung menatap pria inggris itu dan kemudian berbisik,
            “Michael?”
Tanpa diduga, pria inggris itu balas berbuisik,
            Jessica?”
Pria inggris itu mencoba meraih tangan Jessica dan kemudian memeluknya.
Melihat pria inggris itu memeluk Jessica. David dipenuhi perasaan terkejut dan bingung.
Dalam kebingungannya, david akhirnya menyadari bahwa pria inggris itu tidaklah sendirian.ia sedang bersama seorang gadis yang sepertinya berasal dari Indonesia.
David terus menatap wajah gadis itu.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Bintang!
Gadis itu adalah bintang!
Pria inggris itu sedang bersma bintang!
Untuk beberapa saat bintang tidak menyadari david sedang menatapnya penuh kerinduan.
Bintang hanya diam mematung. Dan tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika teman kencannya berpelukan dengan gadis lain.
Bintang akhirnya mengalihkan perhatiannya dari dua orang yang sedang berpelukan itu.
Dan ketika ia menatap kearah lain. Matanya menangkap wajah david.
Bintang terperanjat.
            Ia berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi. Ia mencoba menutup matanya dan kemudian membukanya kembali. Tetapi semakin lama sosok david justru semakin jelas dimatanya.
David sedang berdiri tidak jauh darinya.
Dan ketika sosok david memanggil namanya. Bintang akhirnya menyadari 1 hal,
“ia sedang tidak berhalusinasi”.
            “bintang..”
Tepat ketika david memanggil namanya.
2 orang inggris yang sejak tadi berpelukan. Akhirnya menyadari bahwa masing-masing dari mereka tidak datang sendirian.
            “um, Michael, this is my friend david. David this is Michael” Jessica memecah keheningan.
Dan Michael, pria inggris itu mencoba memperkenalkan bintang pada Jessica dan begitu pula sebaliknya.
2 orang inggris itu bicara tidak jelas pada david dan bintang yang sedang tenggelam dalam fikiran masing-masing.
Beberapa detik kemudian, Michael dan Jessica pergi.
Meninggalkan david dan bintang yang sudah 10 menit diam mematung.
Begitu menyadari bahwa Michael dan Jessica sudah pergi sejak tadi. David dan bintang pun saling salah tingkah.
            “um..” david memecah keheningan namun gagal.
Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
Bintang hendak berbalik ketika ia mendengar david mencoba untuk mencegahnya.
            “No. please don’t go..”
David tertunduk.
            “please don’t go anymore..” lanjut david.
            “three years..” david berhenti dan memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia.
            “ 3 tahun. Kita sudah berpisah selama 3 tahun. Kumohon jangan pergi lagi” david terisak.
Bintang begitu terkejut melihat david menangis.
Ini pertama kalinya ia melihat david menangis.
            “kenapa kau tidak pernah bilang? Tentang masalahmu? Keluargamu? Kenapa kau
            Malah memutuskan untuk meninggalkan aku? Membiarkan aku patah hati? Kau..”
            “david aku..” bintang akhirnya bersuara,
            “kau tidak harus menyimpan semuanya sendiri” lanjut david.
Hening.
            “dan.. bagaimana kau bisa sampai disini? Ini London.. apa kau menumpang kereta
            Untuk bisa sampai disini?” david masih terisak.
            “kau.. masih sama bodohnya seperti dulu david” bintang tersenyum.
            “aku.. aku bekerja selama 1 tahun penuh. Aku tidak akan membiarkan mimpiku
            terkubur” lanjut bintang.
            “bintang kau memang a shining star” david mencoba menghapus air matanya.
            “a shining star?” jari-jari lembut bintang menyentuh pipi david yang basah karena air mata.
            “dan.. bagaimana orang-orang disini menyebut namamu?
            Apa mereka memanggilmu ‘star’?”.
Bintang tergelak.
            “tidak! Mereka memanggilku tiny (sangat kecil)”.
Tiba giliran david yang tergelak.
            “tidak lucu” dahi bintang berkerut.
            “baiklah” david tersenyum.
            “ohya, aku bertemu dengan risma beberapa hari yang lalu. Ia mengatakan bahwa
            Kau ada disini. Aku sangat terkejut waktu itu” kata david.
            “kau tahu aku ada disini dank au berkencan dengan gadis inggris?!” ucap bintang curiga.
David kembali tergelak.
            “kau tahu. Kurasa kita harus menemui risma dan menceritakan apa yang sudah terjadi
            Hari ini. Ia pasti akan tertawa terpingkal-pingkal” kata david seraya menggenggam tangan bintang.