Rabu, 18 Februari 2015

Menara dengan jam besar







Aku tidak berani lagi bermimpi tentang menara dengan jam besar itu. Bermimpi tentang hal itu membuatku tampak seperti orang bodoh.  Jadi, hidup tanpa mimpi dan harapan masa depan yang cerah sepertinya lebih baik untuk saat ini.
Karena aku.. hanyalah aku.
            “Tuhan.. izinkan aku bernapas lagi esok”
Hanya doa ini yang kupanjatkan setiap malam. Hanya mimpi untuk bernapas dihari esok yang aku punya. Hanya sesederhana itu.

Pagi datang lagi. Aku bersyukur masih diberikan kuasa untuk bernapas dan melihat dunia hari ini. Tuhan mengabulkan doa ku lagi.
Aku sangat bahagia melihat wajah ibu lagi. Walau tak mampu untuk sekedar menyapa “bagaimana kabarmu hari ini ibu?”.
Karena aku.. hanyalah aku.
Gadis bisu.
Hari ini aku harus melakukannya lagi. Berbaring diranjang rumah sakit sepanjang hari dengan selang-selang yang membantuku bernapas dan obat-obatan yang mengurangi rasa sakitku.
Aku benci menjadi gadis yang tak sehat seperti ini.
Aku bisu dan tidak sehat.
Kecelakaan itu telah marenggut hidupku. Aku gadis yang bisu dan tidak sehat.
Di siang hari, ketika ibu sedang pergi untuk membeli sesuatu diluar. Aku menjadi sendirian.
Memikirkan tentang betapa sia-sianya waktuku dihari kemarin sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Betapa lalainya aku hidup dengan menunda mimpi dan mengerjakan hal lain.
Aku terlalu takut melawan rasa takut.
Dan jalan terbaik menghindarinya adalah dengan tidak melawannya.
Aku lalai.
Dan menara dengan jam besar itu..
Akhirnya tidak pernah menjadi nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar