Aku tidak berani lagi
bermimpi tentang menara dengan jam besar itu. Bermimpi tentang hal itu membuatku
tampak seperti orang bodoh. Jadi, hidup
tanpa mimpi dan harapan masa depan yang cerah sepertinya lebih baik untuk saat
ini.
Karena aku.. hanyalah aku.
“Tuhan..
izinkan aku bernapas lagi esok”
Hanya doa ini yang kupanjatkan setiap malam. Hanya
mimpi untuk bernapas dihari esok yang aku punya. Hanya sesederhana itu.
Pagi datang lagi. Aku bersyukur masih diberikan
kuasa untuk bernapas dan melihat dunia hari ini. Tuhan mengabulkan doa ku lagi.
Aku sangat bahagia melihat wajah ibu lagi. Walau tak
mampu untuk sekedar menyapa “bagaimana kabarmu hari ini ibu?”.
Karena aku.. hanyalah aku.
Gadis bisu.
Hari ini aku harus melakukannya lagi. Berbaring
diranjang rumah sakit sepanjang hari dengan selang-selang yang membantuku
bernapas dan obat-obatan yang mengurangi rasa sakitku.
Aku benci menjadi gadis yang tak sehat seperti ini.
Aku bisu dan tidak sehat.
Kecelakaan itu telah marenggut hidupku. Aku gadis
yang bisu dan tidak sehat.
Di siang hari, ketika ibu sedang pergi untuk membeli
sesuatu diluar. Aku menjadi sendirian.
Memikirkan tentang betapa sia-sianya waktuku dihari
kemarin sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Betapa lalainya aku hidup dengan
menunda mimpi dan mengerjakan hal lain.
Aku terlalu takut melawan rasa takut.
Dan jalan terbaik menghindarinya adalah dengan tidak
melawannya.
Aku lalai.
Dan menara dengan jam besar itu..
Akhirnya tidak pernah menjadi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar