Hujan
Terakhir Bersama Koji
Hari
sudah gelap saat rapat mingguan usai. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mengantuk.
Bagaimana tidak? Rapat hari ini memakan waktu sampai 3 jam setengah!
Ditambah lagi semalam aku baru jatuh
tertidur pukul 2 pagi setelah menonton film hantu. Aku benci film hantu. Tapi
entah mengapa aku selalu penasaran untuk menontonnya sampai akhir.
Diluar,
hujan sedang turun dengan derasnya. Aku menggosok mata sebelah kanan dan
menguap lebar.
“kau
seperti hendak menelanku saja” kata seseorang yang entah darimana asal
suaranya.
Aku membuka mata sedikit dan menyadari
bahwa ternyata sejak tadi aku tidaklah sendirian. Setidaknya ada 3 orang yang
sedang duduk berhadapan denganku. Dan 2 orang yang masing-masing duduk
disebelah kanan dan kiriku.
Aku kembali menguap.
Yang barusan bicara tadi pasti adalah
dado. Sebab hanya ia yang menatap menakutkan kearahku. Sementara yang lain
sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sedang membaca komik, ada yang
sedang sibuk berkirim sms, dan lain-lain.
“aku
bukan penjahat.
berhentilah menatapku seperti itu” kataku akhirnya.
berhentilah menatapku seperti itu” kataku akhirnya.
“akan
kulakukan. Tapi berhentilah menguap lebar seolah kau hendak menelan
seseorang” katanya dingin.
seseorang” katanya dingin.
Aku tersedak mendengar apa yang
dikatakan dado. Aku hendak melemparnya
dengan sepatu tepat ketika koji datang.
Siapa koji?
Dia kakak kandungku.
Kakak laki-laki sematawayangku.
Tentu saja, kami kan hanya dua
bersaudara.
Dia tampan. Tapi payah dalam hal mendekati
wanita.
“siap
untuk pulang?” tanyanya padaku sembari tersenyum lebar.
Aku segera bangkit dari kursiku, melotot
kearah dado dan menarik lengan koji menjauh dari tempat itu.
“siapa
dia?” tanya koji dalam perjalanan pulang kami.
“yang
mana?” tanyaku terkantuk-kantuk.
“pria
yang kau pelototi tadi?” balas koji tersenyum.
“ohh..
dia dado. Teman SMA-ku. Sikapnya selalu dingin pada semua orang.
aku tak menyangka akan bertemu dengannya di universitas.
aku tak menyangka akan bertemu dengannya di universitas.
Sebenarnya sama sekali tak berharap” kataku
sembari menguap entah untuk yang keberapa puluh kalinya.
Koji tersenyum.
“wah
sepertinya adik kecilku mengantuk ya? Entah apa yang kau dan teman-temanmu
Rapatkan sampai larut malam begini” katanya
mengacak-acak rambutku.
Sesampainya
dirumah, aku segera menuju kekamarku dan tidur dengan manja.
***
Ketika pagi
datang..
“bangun, kei!!” koji
mengguncang-guncangkan bahuku.
Rasanya baru
saja aku tertidur selama 10 menit. Aku mengintip sedikit dan bertanya ada apa.
“kei!” koji membentak.
Aku segera
menegakkan diri. Samar-samar kuperhatikan koji tersenyum.
“kuliahmu libur kan? Ayo kita pergi
ke danau hari ini” ajak koji dengan semangat membara.
“apa?” tanyaku masih dengan mata
tertutup.
“kei..” koji memukul kepalaku dengan
bantal.
***
1
jam kemudian kami sudah sampai didanau kesukaan koji.
“coba
hirup udara nan segar ini kei!” kata koji sembari menghirup udara dalam-dalam.
Aku mencoba menutup mata dan mempraktekkan apa yang dikatakan koji.
Namun sayang, beberapa saat kemudian.
Perutku memberontak. Aku lapar.
Koji tertawa.
“itu
suara perut paling keren yang pernah aku dengar, kei. Kau lapar ya? Ayo kita
cari
Sesuatu untuk dimakan”.
Terdengar hebat. Seolah kami mencari
batu, rumput, atau apapun yang ada di dekat danau untuk dimakan.
“koji,
bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku sembari mengunyah sepotong besar humburger.
Yup. Kami akhirnya berhasil menemukan sebuah kedai yang berjarak kurang lebih
setengah kilometer dari danau.
“hebat”
jawabnya singkat.
“apa
dado meneleponmu tadi malam?” tanya koji.
Aku tersedak.
“koji!
Mana mungkin. Aku benci dia!” jawabku meluap-luap.
Koji hanya tersenyum mendengar
jawabanku.
Setelah menghabiskan 2 buah humburger
ukuran besar, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kami akhirnya memutuskan
untuk pulang.
***
Aku duduk meringkuk sembari memeluk
lutut. Menatap butir demi butir hujan yang mampir di jendela ruang santai ini.
Mencoba mengenang kembali masa-masa 5 tahun yang lalu. Ketika koji datang
menjemputku karna aku pulang terlalu larut setelah rapat. Mengenang hujan
terakhir bersama koji setelah kami pergi kedanau. Makan dikedai humburger, dan
pulang dalam keadaan hujan deras.
Mengenang peristiwa ketika mobil yang
kami tumpangi disambar truk hijau besar dari arah kanan. Yang kemudian
membuatku tidak mengingat apapun yang terjadi setelah itu.
Aku hanya ingat ketika tiba-tiba
terbangun dan sedang terbaring
dirumah sakit dengan kepala yang diperban.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang
telah terjadi.
Tapi kemudian, ketika samar-samar
terdengar suara seorang wanita yang kuyakini adalah suara ibuku.
Aku akhirnya mengingat semua yang telah
terjadi.
Seperti tersengat listrik. Tangisku
akhirnya pecah.
Wanita itu berseru dengan tangisan yang
menyayat hati.
“koji
sudah pergi! Ia sudah pergi untuk selamanya”.
***
Butir-butir hujan masih membasahi kaca
jendela. Semakin deras, semakin ramai mengintip seolah ingin menerobos masuk.
“kau
melakukannya lagi” seru dado.
Aku segera mengeringkan wajah dengan
kedua telapak tangan. Rupanya semua kenangan ini menguras keluar air mataku.
Dado datang dengan membawa 2 gelas kopi
panas dan kemudian duduk disampingku.
“hari
ini hujan turun lagi. Dan kau mengenangnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
Dia pastilah seorang kakak yang istimewa”
ucap dado mengusap sisa-sisa air mataku. Tak sanggup bicara. Aku hanya
tersenyum.
Koji sudah tahu. Ia sudah tahu bahwa
dado yang akan menjadi pandampingku.
Dan bagaimana dia tahu?
Itulah yang ingin kutanyakan padanya. Di
kehidupan yang selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar