Jumat, 09 Mei 2014

Hujan Terakhir Bersama Koji

            Hari sudah gelap saat rapat mingguan usai. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mengantuk. Bagaimana tidak? Rapat hari ini memakan waktu sampai 3 jam setengah!
Ditambah lagi semalam aku baru jatuh tertidur pukul 2 pagi setelah menonton film hantu. Aku benci film hantu. Tapi entah mengapa aku selalu penasaran untuk menontonnya sampai akhir.
            Diluar, hujan sedang turun dengan derasnya. Aku menggosok mata sebelah kanan dan menguap lebar.
            “kau seperti hendak menelanku saja” kata seseorang yang entah darimana asal suaranya.
Aku membuka mata sedikit dan menyadari bahwa ternyata sejak tadi aku tidaklah sendirian. Setidaknya ada 3 orang yang sedang duduk berhadapan denganku. Dan 2 orang yang masing-masing duduk disebelah kanan dan kiriku.
Aku kembali menguap.
Yang barusan bicara tadi pasti adalah dado. Sebab hanya ia yang menatap menakutkan kearahku. Sementara yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sedang membaca komik, ada yang sedang sibuk berkirim sms, dan lain-lain.
            “aku bukan penjahat.
              berhentilah menatapku seperti itu” kataku akhirnya.
            “akan kulakukan. Tapi berhentilah menguap lebar seolah kau hendak menelan
              seseorang” katanya dingin.
Aku tersedak mendengar apa yang dikatakan  dado. Aku hendak melemparnya dengan sepatu tepat ketika koji datang.
Siapa koji?
Dia kakak kandungku.
Kakak laki-laki sematawayangku.
Tentu saja, kami kan hanya dua bersaudara.
Dia tampan. Tapi payah dalam hal mendekati wanita.
            “siap untuk pulang?” tanyanya padaku sembari tersenyum lebar.
Aku segera bangkit dari kursiku, melotot kearah dado dan menarik lengan koji menjauh dari tempat itu.
            “siapa dia?” tanya koji dalam perjalanan pulang kami.
            “yang mana?” tanyaku terkantuk-kantuk.
            “pria yang kau pelototi tadi?” balas koji tersenyum.
            “ohh.. dia dado. Teman SMA-ku. Sikapnya selalu dingin pada semua orang.
              aku tak menyangka akan bertemu dengannya di universitas.
              Sebenarnya sama sekali tak berharap” kataku sembari menguap entah untuk yang keberapa puluh kalinya.
Koji tersenyum.
            “wah sepertinya adik kecilku mengantuk ya? Entah apa yang kau dan teman-temanmu
              Rapatkan sampai larut malam begini” katanya mengacak-acak rambutku.
Sesampainya dirumah, aku segera menuju kekamarku dan tidur dengan manja.
***
Ketika pagi datang..
            “bangun, kei!!” koji mengguncang-guncangkan bahuku.
Rasanya baru saja aku tertidur selama 10 menit. Aku mengintip sedikit dan bertanya ada apa.
            “kei!” koji membentak.
Aku segera menegakkan diri. Samar-samar kuperhatikan koji tersenyum.
            “kuliahmu libur kan? Ayo kita pergi ke danau hari ini” ajak koji dengan semangat membara.
            “apa?” tanyaku masih dengan mata tertutup.
            “kei..” koji memukul kepalaku dengan bantal.
***
            1 jam kemudian kami sudah sampai didanau kesukaan koji.
            “coba hirup udara nan segar ini kei!” kata koji sembari menghirup udara dalam-dalam. Aku mencoba menutup mata dan mempraktekkan apa yang dikatakan koji.
Namun sayang, beberapa saat kemudian. Perutku memberontak. Aku lapar.
Koji tertawa.
            “itu suara perut paling keren yang pernah aku dengar, kei. Kau lapar ya? Ayo kita cari
              Sesuatu untuk dimakan”.
Terdengar hebat. Seolah kami mencari batu, rumput, atau apapun yang ada di dekat danau untuk dimakan.
            “koji, bagaimana pekerjaanmu?” tanyaku sembari mengunyah sepotong besar humburger. Yup. Kami akhirnya berhasil menemukan sebuah kedai yang berjarak kurang lebih setengah kilometer dari danau.
            “hebat” jawabnya singkat.

            “apa dado meneleponmu tadi malam?” tanya koji.
Aku tersedak.
            “koji! Mana mungkin. Aku benci dia!” jawabku meluap-luap.
Koji hanya tersenyum mendengar jawabanku.
Setelah menghabiskan 2 buah humburger ukuran besar, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
***
Aku duduk meringkuk sembari memeluk lutut. Menatap butir demi butir hujan yang mampir di jendela ruang santai ini. Mencoba mengenang kembali masa-masa 5 tahun yang lalu. Ketika koji datang menjemputku karna aku pulang terlalu larut setelah rapat. Mengenang hujan terakhir bersama koji setelah kami pergi kedanau. Makan dikedai humburger, dan pulang dalam keadaan hujan deras.
Mengenang peristiwa ketika mobil yang kami tumpangi disambar truk hijau besar dari arah kanan. Yang kemudian membuatku tidak mengingat apapun yang terjadi setelah itu.
Aku hanya ingat ketika tiba-tiba terbangun dan sedang terbaring dirumah sakit dengan kepala yang diperban.
Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Tapi kemudian, ketika samar-samar terdengar suara seorang wanita yang kuyakini adalah suara ibuku.
Aku akhirnya mengingat semua yang telah terjadi.
Seperti tersengat listrik. Tangisku akhirnya pecah.
Wanita itu berseru dengan tangisan yang menyayat hati.
            “koji sudah pergi! Ia sudah pergi untuk selamanya”.
***
Butir-butir hujan masih membasahi kaca jendela. Semakin deras, semakin ramai mengintip seolah ingin menerobos masuk.
            “kau melakukannya lagi” seru dado.
Aku segera mengeringkan wajah dengan kedua telapak tangan. Rupanya semua kenangan ini menguras keluar air mataku.
Dado datang dengan membawa 2 gelas kopi panas dan kemudian duduk disampingku.
            “hari ini hujan turun lagi. Dan kau mengenangnya lagi untuk yang kesekian kalinya.
              Dia pastilah seorang kakak yang istimewa” ucap dado mengusap sisa-sisa air mataku. Tak sanggup bicara. Aku hanya tersenyum.
Koji sudah tahu. Ia sudah tahu bahwa dado yang akan menjadi pandampingku.
Dan bagaimana dia tahu?

Itulah yang ingin kutanyakan padanya. Di kehidupan yang selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar