Jumat, 23 Mei 2014

Balasan Kebahagiaan



‘bagaimana kau tahu bahwa hidup itu selalu berbalas?’ tanyaku terkejut.
            ‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.
Setelah mengatakan itu ia segera mengangkat tasnya dan berlalu pergi.
            ‘hei! Kau sungguh sangat aneh, bung!’ kataku agak mengeraskan volume suaraku.
Entah apakah ia mendengarnya atau tidak. Karena tentu saja ia sudah cukup jauh berjalan.
Keesokan harinya, ia melakukannya lagi.
Ia mengumpulkan dana keseluruh penjuru kampus lagi. Bernyanyi macam-macam lagu  dengan gitarnya yang keren. Sebelumnya aku selalu berfikir dia mungkin bodoh atau agak gila.
Dia pintar, kaya, dan berwajah bak pangeran dalam komik buatan jepang. Tapi mengapa ia melakukannya? Mengamen berkeliling setiap hari. Dia pikir kampus ini untuk apa? Tempat menggalang dana?
Sampai akhirnya kemarin, aku akhirnya memiliki sedikit keberanian untuk bertanya langsung padanya.
Ia baru saja selesai bermain basket. Dengan menggunakan seragam basket oranye miliknya, ia duduk dibagian depan tribun sebelah kiri. Sedang meneguk air dalam sebuah botol yang juga bewarna oranye.
            ‘untuk apa kau melakukannya?’ tanyaku tiba-tiba.
Karena terkejut, ia tersedak.
            ‘sejak kapan kau ada disini?’ tanyanya masih dalam ekspresi keterkejutannya.
            ‘aku baru saja datang’ kataku.
            ‘kau pasti sangat menikmati air minummu sampai tidak menyadari 
             kedatanganku’ lanjutku.
            ‘baiklah. Mau apa kau?’ tanyanya.
            ‘untuk apa kau melakukannya? Maksudku, mengamen setiap hari
             dilingkungan kampus. Uang yang kau dapat itu, pastilah tidak untuk kau
             nikmati sendiri. Lantas, kenapa kau melakukannya?
             aku bertanya karena tidak ada satupun orang yang tahu kenapa kau
             melakukannya’ terangku.
            ‘hei.. ada apa denganmu?
             kenapa kau ingin tahu urusan orang lain?
             urus saja dirimu sendiri’ jawabnya ketus.
            ‘aku..
             hanya ingin tahu kenapa kau melakukannya.
             untuk apa kau melakukannya?’ kataku tak mau mengalah.
Ia menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab,
            ‘baiklah. Aku akan memberitahumu’
            ‘terima kasih’ balasku sembari tersenyum.
            ‘aku adalah anak yatim piatu..
             kedua orang tuaku meninggal pada sebuah kecelakaan mobil.
             saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun.
             sebagai anak tunggal, aku mewarisi seluruh kekayaan mereka.
             aku hidup dengan 5 orang pelayan, 2 orang bodyguard, dan seorang tukang
             kebun.
             tapi hidupku tetap terasa sepi. Jadi aku membangun sebuah panti, dan
             menggalang dana setiap hari untuk mengusir rasa sepiku’ terangnya.
            ‘um.. kau sungguh memiliki cara yang aneh untuk mengusir rasa sepimu’ jawabku tanpa pikir panjang.
‘yah aku hanya menunggu balasan dari apa yang telah aku lakukan.
 karena hidup selalu berbalas, aku menunggu balasan kebahagiaan dari
 panti itu’ terangnya lagi.
‘bagaimana kau tahu bahwa hidup itu selalu berbalas?’ Tanyaku terkejut.
‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar