‘bagaimana kau tahu bahwa hidup itu selalu
berbalas?’ tanyaku terkejut.
‘entahlah.
Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.
Setelah mengatakan itu ia segera mengangkat
tasnya dan berlalu pergi.
‘hei!
Kau sungguh sangat aneh, bung!’ kataku agak mengeraskan volume suaraku.
Entah apakah ia mendengarnya atau tidak.
Karena tentu saja ia sudah cukup jauh berjalan.
Keesokan harinya, ia melakukannya lagi.
Ia mengumpulkan dana keseluruh penjuru
kampus lagi. Bernyanyi macam-macam lagu
dengan gitarnya yang keren. Sebelumnya aku selalu berfikir dia mungkin
bodoh atau agak gila.
Dia pintar, kaya, dan berwajah bak pangeran
dalam komik buatan jepang. Tapi mengapa ia melakukannya? Mengamen berkeliling
setiap hari. Dia pikir kampus ini untuk apa? Tempat menggalang dana?
Sampai akhirnya kemarin, aku akhirnya
memiliki sedikit keberanian untuk bertanya langsung padanya.
Ia baru saja selesai bermain basket. Dengan
menggunakan seragam basket oranye miliknya, ia duduk dibagian depan tribun sebelah
kiri. Sedang meneguk air dalam sebuah botol yang juga bewarna oranye.
‘untuk
apa kau melakukannya?’ tanyaku tiba-tiba.
Karena terkejut, ia tersedak.
‘sejak
kapan kau ada disini?’ tanyanya masih dalam ekspresi keterkejutannya.
‘aku
baru saja datang’ kataku.
‘kau
pasti sangat menikmati air minummu sampai tidak menyadari
kedatanganku’ lanjutku.
kedatanganku’ lanjutku.
‘baiklah.
Mau apa kau?’ tanyanya.
‘untuk
apa kau melakukannya? Maksudku, mengamen setiap hari
dilingkungan kampus. Uang yang kau dapat itu, pastilah tidak untuk kau
nikmati sendiri. Lantas, kenapa kau melakukannya?
aku bertanya karena tidak ada satupun orang yang tahu kenapa kau
melakukannya’ terangku.
dilingkungan kampus. Uang yang kau dapat itu, pastilah tidak untuk kau
nikmati sendiri. Lantas, kenapa kau melakukannya?
aku bertanya karena tidak ada satupun orang yang tahu kenapa kau
melakukannya’ terangku.
‘hei..
ada apa denganmu?
kenapa kau ingin tahu urusan orang lain?
urus saja dirimu sendiri’ jawabnya ketus.
kenapa kau ingin tahu urusan orang lain?
urus saja dirimu sendiri’ jawabnya ketus.
‘aku..
hanya ingin tahu kenapa kau melakukannya.
untuk apa kau melakukannya?’ kataku tak mau mengalah.
hanya ingin tahu kenapa kau melakukannya.
untuk apa kau melakukannya?’ kataku tak mau mengalah.
Ia menghela nafas panjang dan akhirnya
menjawab,
‘baiklah.
Aku akan memberitahumu’
‘terima
kasih’ balasku sembari tersenyum.
‘aku
adalah anak yatim piatu..
kedua orang tuaku meninggal pada sebuah kecelakaan mobil.
saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun.
sebagai anak tunggal, aku mewarisi seluruh kekayaan mereka.
aku hidup dengan 5 orang pelayan, 2 orang bodyguard, dan seorang tukang
kebun.
tapi hidupku tetap terasa sepi. Jadi aku membangun sebuah panti, dan
menggalang dana setiap hari untuk mengusir rasa sepiku’ terangnya.
kedua orang tuaku meninggal pada sebuah kecelakaan mobil.
saat itu usiaku baru menginjak 10 tahun.
sebagai anak tunggal, aku mewarisi seluruh kekayaan mereka.
aku hidup dengan 5 orang pelayan, 2 orang bodyguard, dan seorang tukang
kebun.
tapi hidupku tetap terasa sepi. Jadi aku membangun sebuah panti, dan
menggalang dana setiap hari untuk mengusir rasa sepiku’ terangnya.
‘um..
kau sungguh memiliki cara yang aneh untuk mengusir rasa sepimu’ jawabku tanpa
pikir panjang.
‘yah aku hanya
menunggu balasan dari apa yang telah aku lakukan.
karena hidup selalu berbalas, aku menunggu balasan kebahagiaan dari
panti itu’ terangnya lagi.
karena hidup selalu berbalas, aku menunggu balasan kebahagiaan dari
panti itu’ terangnya lagi.
‘bagaimana kau
tahu bahwa hidup itu selalu berbalas?’ Tanyaku terkejut.
‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.
‘entahlah. Aku hanya meyakininya. Hanya itu’ jawabnya singkat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar